Arwah Korban Tenggelam Minta Caru

25 April 2018, 11:13


Bali News - Ritual ‘pakelem’ yang sebelumnya digelar di Pantai Watu Klotok, Klungkung

Klungkung, LenteraEsai.com – Arwah korban yang meninggal dunia setelah lebih dari 24 jam tenggelam di bawah permukaan air laut di kawasan Pantai Watu Klotok, Kabupaten Klungkung, minta disuguhkan ‘banten pecaruan’ di lokasi kejadian.

Permintaan tersebut terungkap setelah pihak keluarga korban I Wayan Budiastrawan (30) pergi ‘meluasang’ atau minta petunjuk secara ‘niskala’ kepada ‘orang pintar’, demikian pewarta LenteraEsai.com melaporkan dari Klungkung, Rabu (25/4) pagi.

‘Orang pintar’ yang juga disebut jero tapakan, pada pokoknya menyatakan bahwa arwah almarhum minta keluarganya untuk mempersembahkan ‘banten pecaruan’ di lokasi tiga korban tersapu ombak kemudian tenggelam di Pantai Watu Klotok hari Senin (23/4) lalu.

Atas permintaan tersebut, pihak keluarga korban Wayan Budiastrawan (30) mengaku akan secepatnya menggelar atau mempersembahkan ‘banten pecaruan’ di bibir Pantai Watu Klotok.

Sebelumnya, yakni pada Selasa (24/4) pagi, pihak keluarga Ni Wayan Sutami (52) menggelar ritual ‘pakelem’ untuk tujuan memohon kepada Yang Maha Kuasa agar jenazah para korban tenggelam dapat secepatnya ‘dikembalikan’ kepada keluarga mereka masing-masing.

Ternyata terbukti dan terkabulkan, tiga korban yang dinyatakan tenggelam, jenazahnya secara berturut-turut muncul ke permukaan air laut sejak Selasa (24/4) siang hingga sore harinya. Dua korban yakni Wayan Budiastrawan dan Sobrah muncul di Pantai Watu Klotok, sedangkan jenazah Ni Wayan Sutami (52) muncul ke permukaan hamparan air laut di Pantai Matahari Terbit, Sanur, Denpasar.

Tiga korban yang terseret arus kemudian menghilang dari bibir Pantai Watu Klotok, tercatat atas nama Ni Wayan Sutami (52), penduduk Banjar Semseman, Desa Sangkan Gunung, Kabupaten Karangasem, I Wayan Budiastrawan (30), warga Banjar Tojan Kelod, Gelgel, Kabupaten Klungkung, dan Sobrah (32), penduduk Banjar Jero Agung, Gelgel, Klungkung.

Menurut petugas kepolisian, Senin siang itu Ni Wayan Sutami beserta suaminya menggelar ritual ‘melukat’ di kawasan bibir Pantai Watu Klotok, tiba-tiba muncul ombak besar yang langsung menggulung dan menyeret keduanya ke tengah laut.

Melihat kejadian itu, Budiastrawan dan Sobrah yang kesehariannya mengumpulkan batu sikat di pantai tersebut, bergegas mencoba melakukan pertolongan, namun malah keduanya ikut terseret ombak kemudian menghilang dari atas permukaan air laut. (LE)