Derita Tumor Ganas, Peserta JKN-KIS ‘Curhat’ di Depan Presiden

24 Mei 2018, 06:15


Bali News - Presiden Jokowi berbincang dengan Daeng Nurlia di Istana Negara

Jakarta, LenteraEsai.com – Duduk di kursi roda, wanita bernama Daeng Nurlia (38) itu sejenak menghela napas penuh kesedihan. Serasa menahan air mata, ia menceritakan kisah pengobatan penyakit tumor ganas yang sudah dideritanya sejak dua tahun silam, di depan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Bapak Presiden, saya didiagnosa oleh dokter menderita penyakit tumor ganas sejak tahun 2016. Bertepatan saat bulan Ramadhan 2016,” kata Daeng Nurlia, wanita asal Makassar, Sulawesi Selatan, saat ‘curhat’ atau menceritakan kisahnya di depan Presiden Jokowi di Istana Negara, Rabu (23/5).

Curhat ini disampaikan pada acara silaturahmi antara Presiden Jokowi dengan para penerima manfaat Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS), di Istana Negara, Jakarta.

Menurut Daeng Nurlia, semula dirinya tidak menyangka jika penyakit yang dideritanya adalah tumor ganas. Dia menyangka sakit biasa saja. Namun begitu mendengar diagnosa kalau penyakit tumor itu tergolong ganas, ia menjadi risau bukan kepalang. Apalagi dokter mengatakan, jalan pengobatan yang harus ditempuh adalah melalui operasi.

Bertekad ingin sembuh total, Daeng Nurlia kemudian mengikuti kemoterapi demi kemoterapi hingga sebanyak enam kali. Operasi pun dilakukan untuk mengobati sakit tumornya itu. Namun apa daya, penyakit yang dideritanya tidak kunjung sembuh.

“Saya operasi sampai empat kali. Biaya yang keluar sudah banyak, sampai-sampai saya mau bunuh diri saja rasanya saking putus asanya. Kan saya ini tergolong orang kurang mampu, orang yang susah secara ekonomi. Tapi dengan biaya pengobatan operasi dan kemoterapi yang besar itu, tentu memberatkan keluarga,” katanya lirih.

Beruntung, kata ibu yang memiliki empat anak ini, kemudian dirinya mendengar ada program JKN-KIS sehingga operasi yang kemudian dijalaninya tidak perlu lagi mengeluarkan biaya.

Berkat keberadaan JKN-KIS, maka Daeng Nurlia menjadi bersemangat untuk menjalani pengobatan tumor ganas. Terdorong keinginannya yang besar untuk pulih serta ketabahannya menjalani pengobatan, akhirnya ia dinyatakan sembuh dari penyakit tumornya.

“Tadinya saya kepikiran macam-macam biaya, karena saya ini tidak punya banyak materi. Tapi dengan adanya program JKN-KIS ini, saya tinggal menyiapkan mental dan fisik untuk berobat, karena biaya pengobatan kan sudah ditanggung. Terima kasih pemerintah dan negara karena sudah menyelenggarakan program JKN-KIS. Saya mau bangkit, karena ada anak-anak yang membutuhkan saya. Sekali lagi terima kasih pemerintah,” ujar Daeng Nurlia, seraya menggerakkan kursi rodanya.

Ia berharap, kondisi kesehatannya segera pulih seperti sedia kala dan ia bisa berjalan lagi seperti dahulu. Daeng Nurlia pun ingin segera dapat beraktivitas sebagai ibu rumah tangga untuk mengurusi keluarganya, khususnya anak-anaknya.

“Dengan kondisi kesehatan saya yang makin membaik, maka anak-anak tidak lagi sedih melihat mamahnya. Kasihan, selama ini mereka selalu mengkhawatirkan mamahnya. Bersyukur dengan adanya JKN-KIS ini, saya bisa berobat dengan maksimal,” ucapnya dengan senyuman penuh harapan.

Daeng Nurlia berpesan agar kepada semua warga Negara Indonesia, supaya segera mendaftarkan diri sebagai peserta program JKN-KIS. Hal ini sebagai langkah preventif, jika sewaktu-waktu mengalami sakit dan membutuhkan pengobatan. “Bukan berarti mendoakan sakit, tapi ini sebagai pencegahan. Karena penyakit itu bisa muncul tiba-tiba dan tidak dapat diketahui kapan datangnya,” katanya.

 

Tugas Konstitusi

 

Sementara itu, Presiden Jokowi usai mendengarkan cerita dari Daeng Nurlia menyatakan, pelayanan kesehatan ini adalah tugas konstitusional yang harus dijalankan bersama.

Hal ini, lanjut Presiden Jokowi, memang tugas konstutisional. Tugas konstitusi yang harus dijalani bersama dan memastikan bahwa seluruh rakyat di seluruh pelosok Tanah Air merasakan kehadiran negara, terutama dalam pelayanan kesehatan.

“Dan seperti yang sudah disampaikan Ibu tadi, betapa yang namanya sakit saat ini biayanya sangat tinggi. Sekali lagi kita berharap seluruh masyarakat Indonesia sehat semuanya,” kata Presiden Presiden.

Sampai saat ini, kata Presiden, pemerintah sudah memberikan 92,2 juta Kartu Indonesia Sehat, yang terdaftar sebagai peserta penerima bantuan iuran (PBI) Jaminan Kesehatan (JK). Sementara untuk total peserta BPJS Kesehatan, termasuk yang tidak dibayar pemerintah, jumlahnya adalah 197,6 juta jiwa.

“Hampir seluruh rakyat sudah memegang kartu JKN-KIS, dan khusus peserta PBI JK mencapai 92,2 juta. Kalau masih ada yang belum menerimanya, maka nanti kita sisir lagi. Kalau masih diperlukan, kita akan tambahkan dan tahun ini target untuk kartu JKN-KIS peserta PBI JK adalah 96,8 juta. Jadi masih ada ruang untuk yang masih belum memiliki Kartu Indonesia Sehat,” kata Presiden Jokowi.

Selanjutnya, Presiden memberikan pesan supaya masyarakat menjaga kesehatan dengan olahraga rutin, pola makan teratur serta tidur yang cukup. “Namun yang lebih penting, jika rakyat ingin mendapatkan pelayanan kesehatan, maka jangan ada yang menghambat serta mempersulit. Itu saja yang saya minta,” ujar Presiden pada akhir acara silaturahmi. (Tri Vivi Suryani)