Menu Click to open Menus
Home » In-Depth » Perjalanan Mendokumentasikan Cerita Rakyat di Kamboja

Perjalanan Mendokumentasikan Cerita Rakyat di Kamboja

(20 Views) Mei 25, 2018 5:57 pm | Published by | No comment

Phnom Penh, LenteraEsai.com – ​”Perjalanan ini punya misi untuk mendokumentasikan cerita rakyat dan menggali kearifan lokal dalam suatu masyarakat,” ujar Luthfi Maiza Kusuma, penggowes asal Kalimantan Barat saat diterima oleh Dubes RI untuk Kerajaan Kamboja, Sudirman Haseng di KBRI Phnom Penh, Kamboja baru-baru ini.

“Terima kasih sudah turut membantu mempromosikan budaya dan musik Indonesia selama perjalanan, semoga tercapai tujuannya dan selamat kembali ke tanah air’ tutur Dubes RI. Luthfi juga sangat berterima kasih karena berkesempatan menginap di kediaman Dubes RI di Wisma Duta ketika berada di Phnom Penh.

Dari 2014 hingga saat ini, Luthfi telah menyusuri 33 provinsi di Indonesia dan 6 negara Asia dengan modal menjadi pemain musik jalanan dengan biola di tangannya. Setelah Kamboja, Luthfi akan melanjutkan perjalanannya ke Laos, Vietnam dan China.

Berikut cerita singkat di Kamboja yang ditulis oleh penggowes yang juga hobi naik gunung ini.

Cerita Singkat di Kamboja

“Assalamualaikum Kamboja, atas izin-Nya semoga leluhur dan semesta alam merestui perjalanan menginjak tanah Kamboja,” gumamku saat melintasi gerbang Poi Pet, salah satu border Kamboja – Thailand. Kalimat ini selalu kuucapkan ketika memasuki daerah baru.

Wooow… Perbedaan negeri ini terlihat sangat kontras dengan Thailand. Baik itu tata kota Poi Pet maupun cara masyarakat berkendara. “Kok orang banyak yang salah jalan?”, tanyaku dengan mata terus memandangi ruas jalan. Beberapa kali aku hampir tertabrak, setelah kuamati dengan seksama ternyata aku yang salah jalan. Di sinilah momen pertama kalinya berkendara sebelah kanan.

Sembari mengayuh dengan keringat yang terus mengucur seperti bulir jagung, pandanganku selalu tertuju pada rumah-rumah panggung yang begitu khas. Masyarakat disini masih mempertahankan kearifan lokalnya.

Matahari mulai memamerkan pesona jingganya, pertanda aku harus segera rehat. Tempat menginap yang selalu kupikirkan di Kamboja adalah Kuil. Semua tempat ibadah sudah dicoba untuk menginap, kali ini aku ingin merasakan lebih mengenal kehidupan Budha.

Para biksu di pedesaan tak fasih bahkan tak dapat berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Kutunjukan tulisan dalam bahasa Khmer pada layar smartphone dengan app google ‘translate’ yang artinya “Halo, selamat malam, nama saya Luthfi, pesepeda dari Indonesia. Hari sudah petang dan saya mulai kelelahan. Apakah boleh saya menumpang menginap untuk satu malam di kuil ini? besok pagi saya lanjut perjalanan. Saya bawa tenda”. Anggukan kepala Biksu adalah pertanda baik dan tak jarang mereka juga memfasilitasi makan malam hingga sarapan. Hal seperti ini selalu kulakukan sebelum bertemu teman-teman di daerah tujuan.

Terkadang ada pemuda yang fasih berbahasa Inggris di sekitaran kuil datang dan mengajak berbicara. Aku lebih banyak belajar kearifan lokal masyarakat Khmer dan Campa darinya.

Dalam buku Manusia dan Kebudayaan karya Koentjaraningrat, tertulis bahwa rumpun Austronesia di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia dan Kamboja, memiliki kemiripan beberapa kata dalam bahasa yang masuk dalam kategori Bahasa Maloyo Polinesia.

Di beberapa daerah, khususnya pemukiman muslim (Campa), kutemukan kata dalam bahasa Khmer memiliki kemiripan dengan bahasa Indonesia dan Ras China Khek di daerahku, Kalbar. Seperti, hitungan angka, lalu tangan menjadi tengen, Jalan menjadi jelan, rambut menjadi Mbot, Luy (China tradisional Kalbar) di Kamboja juga menyebutnya Luy, makanan tahu tetap tahu. Selain itu, aku juga berburu kue-kue tradisional yang memiliki kemiripan, seperti ukal pisang, ukal inti, dan apam dengan sebutan apom.

Kemudian di sisi mitologi, Kamboja juga mempercayai adanya mitologi burung garuda. Hal yang tak kalah menarik, berlaku 2 mata uang yang beredar dari pedesaan hingga perkotaan, yakni Real Cambodia dan USD dan kendaraan tradisional Kamboja, Tuk-tuk. Bentuknya mirip dengan delman di Indonesia yang ditarik oleh kuda. sedangkan di Kamboja Tuk-tuk ditarik dengan sepeda motor.

Nah, beberapa hari di Siem Reap, aku menginap di rumah salah satu teman yang kukenal di warmshower.org. Bong Seyha, seorang pastor gereja Advent, yang mengabdikan dirinya untuk kemaslahatan umat manusia. Dia mengajar dan membuka les bahasa Inggris secara gratis bagi orang-orang yang niat belajar. Sesekali aku ikut serta sebagai “native speaker english” berbagi kisah perjalanan kepada murid-muridnya.

Aku melewatkan sebuah destinasi andalan negeri ini, Angkor Wat. Karena logikaku mengalahkan hasratku. “Mahal, 37 USD untuk sekali masuk. Aku bisa hidup beberapa hari di negeri ini dengan uang segitu, aku harus hemat, perjalananku masih panjang, mungkin nanti ada rejekinya,” pikirku dengan nurani menggerutu. Aku bukanlah wisatawan yang mengusir penat dengan rutinitas kerjaannya.

Kota tujuan berikutnya adalah Phnom Penh, ibu kota negara yang pernah dijuluki Hell on Earth ini membuatku penasaran dengan sungai bercabang empat yang membelah kota.

Bang Abdul Razak, seorang teman baik yang semula kutahu kisahnya bukan orangnya. Orang Campa yang besar di Negeri Jiran. Akhirnya kami bertemu setelah dia menjemputku dan langsung mengajakku silahturahmi ke pelbagai perkampungan muslim kurang mampu untuk menyalurkan bantuan sembako. Kemudian, dihari-hari berikutnya aku membantunya berjualan pakaian dalam wanita. Kami masuk dari pasar satu ke pasar yang lainnya. Suasana pasar dan tata kota cukup mengobati rinduku tentang arti rumah dan kampung halaman.

“Persis sekali dengan Indonesia, Bang”, ujarku pada Bang Razak.

Di hari berikutnya, dia mengajakku menyusuri kota dengan vespa mungil saksi kesuksesannya. Di tengah teriknya matahari dan menembus kemacetan, kami mengunjungi Wat Phnom, dan tugu perintis kota Phnom Penh, Jay Penh. Dua lokasi wisata yang bersebelahan sebagai tonggak awal mula kota ini. Kami juga menyusuri lorong-lorong ‘central market’ hingga ke Masjid Al-Serkal. Lalu ke Royal palace, saat menuju Kohpick, tak lupa, dia juga menunjukkan sebuah Casino yang terkenal, Nagaworld.

Di hari berikutnya, Bang Razak mengantarku untuk melaporkan diri tiba dengan meminta surat keterangan ke KBRI. Alhamdulillah, disambut baik oleh Bapak Sudirman Haseng selaku Duta Besar RI untuk Kamboja dan stafnya.

Terima kasih Kamboja, kita telah mengukir kebersamaan di tanah Kamboja, bersama orang-orang yang luar biasa. (LE)

Comment Closed: Perjalanan Mendokumentasikan Cerita Rakyat di Kamboja

Sorry, comment are closed for this post.