Putu Dian Setiawan, Kabag Humas Humanis di Pemkab Tabanan (1)

24 Juli 2018, 08:25


Bali News - Caption: Putu Dian Setiawan

Tabanan, LenteraEsai.com – Mengemban tugas sebagai Kabag Humas dan Protokol Pemerintah Kabupaten Tabanan sejak tahun 2011, merupakan sesuatu yang tak pernah singgah dalam benak I Putu Dian Setiawan.

Namun sebagai wujud kecintaan pada tanah kelahiran Tabanan, membuatnya menekuni jabatan ini dengan sepenuh hati disertai pengabdian tuntas pada tanggung jawab yang dipercayakan padanya sejak masa pemerintahan Bupati Ni Putu Eka Wiryastuti.

Lantas, bagaimana perjalanan hidup pria yang akrab dipanggil dengan Putu Dian ini? Putu Dian mengisahkan episode kehidupannya melalui wawancara secara langsung, pada pertengahan Juli 2018.

Dian adalah Lentera

Masa-masa sejak 23 Oktober 1973, menjadi hari tak terlupakan bagi pasangan suami istri Ni Nengah Suryati dan I Nyoman Nitia. Saat itu, Nengah Suryati tengah hamil tua dan sudah merasakan tanda-tanda akan melahirkan. Diantarkan suami menuju poliklinik dekat rumah di Desa Penebel, Tabanan, Nengah Suryati ternyata tidak kunjung melahirkan. Padahal wanita ini sudah berhari-hari merasakan kesakitan, namun bayi yang ditunggu-tunggu tidak kunjung mau lahir.

Pada tanggal 26 Oktober 1973 Nengah Suryati dibawa ke Rumah Sakit Umum di Sanglah, Denpasar. Akhirnya, di rumah sakit inilah putra pertama Nengah Suryati dapat lahir dengan persalinan normal dan berlangsung lancar.

Dikarenakan kondisinya lemas, bayi mungil yang diberi nama I Putu Dian Setiawan ini disinar dan dimasukkan inkubator selama beberapa hari. Proses masa kelahiran hingga bayi mendapat sinar agar kondisinya tidak lemah ini, membuatnya diberi nama Dian. Makna ‘Dian’ adalah cahaya atau sinar, ‘Setia’ merupakan gabungan nama orang tua sang bayi dan ‘Wan’ berasal dari Wirawan, yang tidak lain dokter yang membantu persalinan Nengah Suryati.

Kelahiran Putu Dian Setiawan disambut penuh suka cita, sehingga ibarat menjadi lentera atau lampu penerang bagi keluarga kecil itu. Tangisan pertama Putu Dian, merupakan alarm kebahagian bagi pasangan Nengah Suryati dan Nyoman Nitia.

Setelah dibawa pulang dari rumah sakit, kedua pasangan itu tetap menekuni pekerjaan yang sejak semula dijalani. Saat itu, Nyoman Nitia menjadi sopir truk dan Nengah Suryati adalah petani desa. Namun pada saat ada acara-acara di desa, misalnya kegiatan PKK, maka Nengah Suryati selalu didaulat menjadi MC.

“Suatu hari, ada acara PKK yang dihadiri langsung oleh Gubernur Bali yang waktu itu dijabat Bapak Sukarman, didampingi oleh Bupati Tabanan. Ketika melihat ibu saya tampil menjadi MC, Gubernur Bali spontan mengusulkan memberi jabatan pada ibu agar menduduki posisi di PKK Tabanan,” kata Putu Dian mengenang kehidupan orang tuanya.

Setelah Nengah Suryati resmi menjadi staf PKK Tabanan, maka keluarga ini pindah dari Penebel ke Kota Tabanan. Ayah Putu Dian yang semula menjadi sopir truk, ditawari menjadi sopir di Pemkab Tabanan.

Hari-hari baru dengan suasana berbeda pun dimulai. Jika semula mereka tinggal dengan dilingkupi alam pedesaan yang sejuk dan hening, kini mau tak mau mesti beradaptasi dengan suasana perkotaan yang ramai.  (Vivi)