Ketut Putra Ismaya, Maju Jadi Senator Untuk Jaga Tanah Bali

7 Agustus 2018, 12:29


Bali News - Caption: Jro Mangku Ketut Ismaya

Denpasar, LenteraEsai.com – Nama I Ketut Putra Ismaya Jaya selama ini sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Bali, terkait kedudukannya sebagai Sekjen Laskar Bali.

Ketika pria yang sudah di-‘winten’ menjadi jro mangku sejak tahun 2010 ini kemudian mendaftarkan diri untuk menjadi senator di DPD-RI, akhirnya menimbulkan pertanyaan publik. Apakah alasan di balik pendaftaran menjadi seorang senator bagi Jro Mangku Ketut Ismaya?
Kepada media Lenteraesai.com, Jro Mangku Ketut Ismaya secara khusus mengisahkan sejumlah alasan di balik pendaftarannya untuk menjadi senator sebagai perwakilan Bali di pusat.

“Sebenarnya dulu tidak terpikir bahwa saya akan mendaftar menjadi anggota DPD-RI. Padahal saya sudah membeli logo DPD-RI sejak 10 tahun lalu. Tapi saya simpan di laci dan direncanakan untuk dipasang di mobil, karena ada lambang Garuda Pancasila. Tiba-tiba belakangan logo itu ketemu lagi, seolah menjadi isyarat bahwa saya sudah saatnya maju ke DPD-RI,” kata Jro Mangku Ketut Ismaya mengawali pembicaraan ketika ditemui di Denpasar, Selasa (7/8).

Dia melanjutkan, ada sejumlah latar belakang sehingga dirinya ingin maju ke DPD-RI. Pertama, karena ingin membela tanah dan masyarakat Bali. Jika nanti terpilih menjadi anggota DPD-RI, maka Jro Mangku Ketut Ismaya ingin bisa membela masyarakat jika menemukan permasalahan sehingga ada titik solusi dan tidak menjadi problema berkepanjangan.

Kedua, Jro Mangku Ketut Ismaya sudah merancang menginginkan setiap kabupaten atau kota di Bali, memiliki pasraman yang sekaligus dapat dijadikan destinasi wisata spiritual bagi turis yang berkunjung.

Pasraman ini nanti diusulkan untuk dibangun oleh setiap pemerintah kabupaten/kota. Sebagai langkah awal, pasraman akan dibangun untuk anak-anak usia sekolah dasar (SD). Jika antusiasme masyarakat tinggi, maka bisa dilanjutkan hingga level SMP dan SMA.

“Di pasraman nanti diajarkan dasar-dasar nilai agama dan seni budaya. Saya ingin, anak-anak Bali telah mengetahui falsafah keagamaan sejak usia dini, sebagai dasar pembentukan karakter bagi mereka,” ujar pria yang memiliki garis keturunan Panji Anom atau Dalem dari Kerajaan Buleleng.

Selain pengajaran agama, di pasraman juga diajakan seni budaya. Termasuk sejumlah keterampilan, sehingga anak-anak yang belajar di pasraman memiliki kemampuan sebagai bekal kemandirian di masa depan.  Selain itu, dengan memiliki keterampilan, maka turis yang berkunjung ke pasraman dapat membeli souvenir dari anak-anak.

Jiwa Yang Tulus

Tidak hanya pasraman, Jro Mangku Ketut Ismaya pun telah merancang untuk menyederhanakan upakara dalam setiap odalan, ritual atau upacara yang digelar warga. Ia menekankan agar jangan sampai masyarakat terbebani, apalagi sampai berhutang, dengan berbagai biayaupacara yang dijalankan.

“Bapak Gubernur Mangku Pastika baru-baru ini telah menyebutkan bahwa berdasarkan hasil survei, pemeluk agama Hindu telah menurun pada tahun 2018. Kalau dulu prosentase pemeluk Hindu di Bali mencapai 90%, namun kini telah merosot hingga 82%, karena sebagian penduduk sudah beralih memeluk agama yang lain. Ini yang memprihatinkan,” ujar Jro Mangku Ketut Ismaya.

Pihaknya mengkritisi, jika ada langkah penyederhanaan upakara dan tidak membebani penduduk dengan biaya upakara yang besar, maka tentu warga tidak akan mengeluh tingginya uang yang harus dikeluarkan setiap upakara berlangsung.

Jro Mangku Ketut Ismaya mencontohkan, kalau pemeluk Hindu di India, maka setiap melangsungkan ritual keagamaan, maka cukup ada tiga unsur, yakni bunga, air dan asap dupa. “Saya tetap menghargai adat dan kearifan lokal di Bali, namun harus mestinya kegiatan-kegiatan itu tidak memberatkan masyarakat. Jika ada ritual atau tradisi yang dilangsungkan oleh pihak pemerintah daerah, silahkan. Jangan dihilangkan. Akan tetapi secara pribadi, jangan sampai masyarakat terbebani. Karena yang penting dalam bersembahyang itu, ada niat dan jiwa yang bersih serta tulus,” ujar dia.

Pada akhir perbincangan, Jro Mangku Ketut Ismaya juga menggagas kegiatan dharma wacana untuk menambah pengetahuan keagamaan bagi umat se-Bali. Sebagai ‘pilot project’, maka akan dikumpulkan generasi muda perwakilan dari sejumlah kabupaten/kota, untuk dididik menjadi panitia dharma wacana Hindu. “Biar ada regenerasi tokoh agama Hindu,” kata jro mangku kelahiran Karangasem ini. (LE-DP)