Dewa Mahendra, Pengabdian dan Bakti Untuk Bali (1)

13 Agustus 2018, 06:59


Bali News - Caption: Dewa Gede Mahendra Putra SH MH

Perjalanan karier Karo Humas dan Protokol Provinsi Bali Dewa Gede Mahendra Putra SH MH, memiliki untaian alur kisah panjang dan penuh warna. Kehidupannya pria ini, bermula dari sebuah Kelurahan Kaliuntu, Buleleng. Sebuah kampung teduh, yang menjadi cikal bakal seorang Dewa Mahendra memperoleh pelajaran hakiki tentang arti kemandirian.

Kepada media LenteraEsai.com, Dewa Mahendra menuturkan kisah hidupnya pada suatu hari berbayang mendung di awal Agustus 2018.

“Saya lahir di Kelurahan Kaliuntu Buleleng pada 18 Maret 1966 lalu. Saya tumbuh dalam keluarga yang sarat dilingkupi kasih sayang oleh keluarga, sehingga kami memiliki ikatan perasaan yang kuat satu sama lain,” kata Dewa Mahendra mengawali kisah.

Sang ibu adalah Desak Made Yuniar Wati, yang aktif pada kegiatan tata busana. Desak Made ini memiliki kepedulian tinggi terhadap budaya, termasuk pelestarian kain-kain tradisional. Kepedulian ini, membuat Desak Made berkali-kali berkunjung ke daerah lain untuk mempelajari seni tenun dan batik. Wanita ini juga pernah mengikuti kursus batik di Yogyakarta.

Sedang ayahanda adalah Dewa Nyoman Beratha, seorang tokoh yang dikenal di kalangan masyarakat Buleleng. Nama Dewa Nyoman Beratha ini familiar di masyarakat, terkait lingkup aktivitasnya di bidang politik dan pendidikan.

“Nah, di sela kesibukannya, Ajik ini suka memelihara bermacam-macam burung dan ayam bekisar. Awalnya saya ikut membantu memelihara, lalu tiba-tiba saya tercetus pikiran untuk membisniskan,” kata Dewa Mahendra seraya tersenyum, mengenang masa berbisnis burung dan ayam yang pernah digelutinya.

Memelihara beragam jenis burung, seperti beo, perkutut, merpati, dan burung jalak hingga ayam bekisar, membuat Dewa Mahendra mengenali karakter satwa serta cara pemeliharaan yang baik. Berkat perawatan telaten ini, maka berbagai jenis burung dan ayam-ayam ini dengan mudah menarik perhatian pencinta unggas. Sejumlah pencinta unggas dari wilayah Buleleng hingga Denpasar tanpa segan memesan dan membelinya kepada Dewa Mahendra.

Kegiatan berjualan burung dan ayam ini dijalani pria berbintang Aries ini hingga masa remaja. Bahkan, kegiatan ini tetap dijalankan saat ia mengambil kuliah jurusan hukum di di Universitas Panji Sakti Buleleng pada tahun 1982.

Diangkat Jadi CPNS

Pada saat pertengahan kuliah, saat menginjak semester IV di Universitas Panji Sakti, Dewa Mahendra mendapat pengumuman yang membahagiakan. Namanya tercantum sebagai salah satu CPNS di Buleleng. Kabar ini diterima dengan suka cita, karena menjadi pegawai negeri adalah cita-cita yang sudah diimpikannya sejak kecil. Maka ketika ia menerima informasi mengenai pembukaan tes CPNS di Pemerintah Kabupaten Buleleng, tanpa segan ia langsung mendaftar.

Sembari melanjutkan kuliah, Dewa Mahendra kemudian menjalani pekerjaan sebagai sebagai CPNS. Tahun 1989, ia diangkat menjadi PNS dan ditempatkan sebagai staf SMP Negeri 3 Banjar.

“Saat diangkat menjadi PNS, kuliah saya sudah selesai. Saya wisuda dari kampus tahun 1986. Tiga tahun setelah lulus, saya menjadi pegawai negeri sipil. Saya dan keluarga tak henti bersyukur atas karunia Hyang Widhi, sehingga proses pengangkatan saya menjadi PNS berlangsung lancar,” katanya. (Bersambung/LE-DP)