Polda NTB Telusuri Penyebar ‘Hoax’ Gempa Lebih Dahsyat

24 Agustus 2018, 23:33


Bali News - Caption: Bangunan roboh akibat gempa

Lombok, LenteraEsai.com – Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat (Polda NTB) kini tengah menelusuri penyebar isu ‘hoax’ atau berita bohong yang menyebutkan akan terjadi gempa susulan yang lebih dahsyat pada hari Minggu (26/8) mendatang.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda NTB Kombes Pol Syamsuddin Baharuddin yang dihubungi wartawan di Mataram, Jumat (24/8) menegaskan bahwa pihaknya bekerja sama dengan Mabes Polri kini sedang menelusuri isu ‘hoax’ melalui jejaring sosial tentang akan timbulnya gempa yang lebih dahsyat dari serentetan peristiwa yang sama yang telah terjadi sebelumnya.

“Situs-situs penyebar berita bohong yang membuat kepanikan warga, sudah kami telusuri. Tim Cyber Crime Polda NTB bersama Tim Cyber Crime Mabes Polri sekarang sedang bekerja,” kata Syamsuddin.

Jika penyebarnya tertangkap, maka akan ada sanksi yang cukup berat. Pelaku dapat diancam dengan pasal 28 ayat 1 Undang – Undang RI Nomor 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dengan ancaman enam tahun penjara dan denda maksimal Rp1 miliar.

“Kepolisian akan menindak tegas siapapun yang membuat dan menyebarkan informasi bohong (hoax),” ujarnya menandaskan, sembari meminta masyarakat bisa mencerna setiap informasi yang belum tentu kebenarannya.

Maraknya berita ‘hoax’ yang tersebar secara berantai melalui pesan singkat (SMS, whatsapp, telegram), e-mail, serta jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook telah membuat resah masyarakat. Apalagi isu mengenai akan terjadinya gempa susulan pada hari Minggu, 26 Agustus 2018, semakin membuat kepanikan warga masyarakat, terutama di NTB.  Padahal, itu semua tidak benar.

“Saya tegaskan, sampai saat ini tidak ada satu negara pun di dunia ini yang mampu memprediksi akan terjadinya gempa. Di manapun dan kapanpun tidak bisa diprediksi. Kejadian gempa itu merupakan rahasia Allah SWT,” ucapnya menjelaskan.

Dirreskrimsus mengimbau masyarakat untuk segera dapat melaporkan kepada polisi jika mengetahui adanya penyebaran berita ‘hoax’, karena perbuatan itu sudah masuk ke dalam pelanggaran hukum. (LE-LB)