Menyambung Asa di Banjar Berseri Subak Sembung Peguyangan

31 Desember 2018, 08:15


Bali News - Pemandangan di Subak Sembung

Denpasar, LenteraEsai.com – Puluhan burung bangau mengibaskan sayap di udara, sebelum sejenak hinggap di pematang sawah. Sungai kecil mengalirkan air jernih dan bergericik sepanjang waktu, di sisi ‘jogging track’ yang menghampar mengitari areal persawahan.

Di sinilah, deru angin, kepak burung bangau, gemericik air kali, harum wangi bunga dan jejak petani bertanam padi, bagai penggalan lukisan alam yang selalu menjadi tempat relaksasi favorit bagi sebagian masyarakat Pulau Dewata.

Dan penggalan lukisan alam ini, tidak lain berupa areal persawahan Subak Sembung di Banjar Pulugambang, Desa Peguyangan, Denpasar Utara. Subak Sembung ini adalah salah satu tempat program binaan Kampung Berseri Astra. Namun dengan menjunjung tinggi kearifan lokal setempat, maka penamaan desa binaan ini menjadi ‘Banjar Berseri Astra’.

Sejak sekitar tahun 2013 Subak Sembung sudah ditata dan dilestarikan keberadaannya sebagai lahan perimbangan. Ini dikarenakan saat itu, berdasar data dari Pemkot Denpasar, luas lahan hijau di Kota Denpasar hanya tersisa 2.506 hektare. Sisanya telah beralih fungsi menjadi lahan pemukiman, hotel atau sarana wisata lainnya.

“Setelah melalui penataan, tahun 2014 Subak Sembung kemudian berhasil menjuarai lomba subak tingkat Kota Denpasar dan Provinsi Bali. Keberhasilan ini makin memotivasi warga untuk mempertahankan Subak Sembung sebagai lahan hijau. Luas persawahan Subak Sembung adalah 115 hektare. Sekarang subak telah berkembang sebagai tempat edukasi berkesinambungan,” ujar Agung Wisnawa selaku Kelian Banjar Pulugambang.

Selanjutnya bekerja sama dengan Badan Lingkungan Hidup Kota Denpasar, Dinas Pertanian dan instansi terkait, pihak aparat Desa Peguyangan bersinergi sehingga terbentuklah Ekowisata Subak Sembung. Tidak ada wahana atau atraksi wisata yang dibangun. Ekowisata ini benar-benar menawarkan bentangan persawahan dan alam pedesaan yang menghijau serta alami, sebagai oase di tengah hiruk pikuk Kota Denpasar.

 

Pintu masuk jogging track

“Tidak ada macam-macam wahana, memang kami ingin melestarikan dan tidak merubah bentuk Subak Sembung ini. Sarana yang disediakan hanya jalur ‘jogging track’ sepanjang 3 km dan 7 km mengitari areal persawahan. Hampir setiap hari, masyarakat memanfaatkan jogging track ini untuk berolah raga, jalan kaki mengitari persawahan sambil melihat padi menguning atau hamparan ladang bunga,” kata Agung Wisnawa, sembari menyatakan dengan adanya ekowisata ini banyak warga terbantu karena dapat memberdayakan perekonomian penduduk lokal.

Berdayakan Ekonomi

Berubahnya Subak Sembung yang semula hanyalah kawasan persawahan biasa, dan kini menjadi objek wisata alam benar-benar disyukuri penduduk Desa Peguyangan. Pada areal Subak Sembung misalnya, setiap hari dapat dijumpai warga yang antusias bertanam padi dan bunga, atau menjajakan hasil panen di sawah sehingga kondisinya masih segar.

Seperti yang dilakukan salah seorang warga Banjar Pulugambang, Gung Rai (71) yang sudah dua tahunan berjualan hasil panen seperti kangkung, sayur gondoh, bayam, jantung pisang, sukun dan ubi ketela rambat. Wanita ini menyatakan sangat bersyukur dengan keberadaan Ekowisata Subak Sembung, sehingga hari tuanya dapat beraktivitas menambah penghasilan. Ia bahkan mengatakan dapat menyerap suasana kegembiraan berkat interaksi dengan warga yang olahraga di jogging track.

 

Gung Rai berjualan di warung dekat pematang sawah

“Kalau di rumah saja, saya bisa cepat sakit kalau cuma bengong. Sejak ada Ekowisata Subak Sembung, saya bikin warung kecil untuk jualan sayuran. Semua ini hasil panen di kebun dan sawah. Itu sawah saya ditanami kangkung dan sayur gondoh. Tinggal petik dan jual. Begitu setiap hari,” kata Gung Rai.

Ia melanjutkan, sebelumnya aktivitasnya adalah berjualan buah kolang-kaling di Pasar Kumbasari selama 25 tahun. Pekerjaan ini dilakukan guna membiayai pendidikan ketiga adiknya karena orang tuanya sudah meninggal dunia. Setelah ketiga adiknya mampu mandiri dan ia beranjak tua, maka Gung Rai memutuskan berhenti dari pekerjaan berjualan kolang kaling.

“Saya sudah tidak kuat berjalan dan berdiri lama-lama. Lutut kena rematik, sehingga sering gemetaran. Syukurlah, saya tidak total berhenti kerja. Sekarang bisa berjualan di Subak Sembung, ini merupakah berkah bagi saya. Di usia seperti ini masih bisa jualan dekat rumah,” katanya sambil menata dagangannya di warung kecil dekat pematang sawah.

Tidak hanya Gung Rai yang mencoba mengais rupiah di Subak Sembung. Seorang gadis cilik bernama Kadek Ayu Kristayanti yang baru kelas 5 SD pun setiap Sabtu dan Minggu selalu membantu orang tuanya berjualan di pinggir jogging track. Tidak nampak ekspresi malu atau tertekan, Ayu malah menyatakan kegembiraan karena bisa membantu orang tuanya mencari nafkah.

“Saya bantu jualan setiap Sabtu dan Minggu saja, karena hari lain kan sekolah. Kalau Sabtu, jualan sore mulai pukul 16.00 – 19.00 Wita. Hari Minggu jualan pagi dan sore,” ujar Ayu dengan nada riang.

Ayu mengatakan, ia mampu berjualan hingga menghabiskan 30-40 ikat kangkung. Seikat kangkung harganya Rp 2.000. Kangkung itu dipetik langsung oleh ibunya dari sawah, sehingga daunnya tidak ada yang layu.

 

Kadek Ayu Kristayanti membantu orang tua berjualan kangkung

Warga yang tertarik untuk membeli adalah orang-orang yang usai olahraga dan melewati rute jogging track tempat Ayu berjualan. Seorang pembeli biasanya membeli 2-3 ikat kangkung. “Saya akan terus membantu orang tua. Biar ibu bisa mengurus sawah dan memetikkan kangkung. Saya tugasnya bantu menjual, karena bapak sibuk mengantar pesanan kangkung dari restoran di sekitar Peguyangan. Bapak dan ibu tidak pernah memaksa bantu jualan. Memang saya yang meminta membantu, biar ibu punya tabungan dan menyekolahkan saya supaya bisa jadi guru,” ujar Ayu dengan nada penuh harapan.

Sementara itu, keberadaan Ekowisata Subak Sembung memiliki arti tersendiri bagi pasangan suami istri I Wayan Cangker (69) dan Ni Nyoman Suwerti (62). Mereka berdua sudah puluhan tahun menjadi petani bunga. Terutama menanam bunga pacar sebagai bahan membuat ‘canang sari’ untuk persembahyangan umat Hindu.

Bunga pacar itu ditanam di lahan seluas 100 meter X 100 meter (1 are) di areal Subak Sembung. Setiap hari, pasangan Cangker dan Suwerti mampu memetik bunga 11-15 kg, untuk kemudian dijual kepada pelanggan yang membeli. Kegiatan ini sudah dilakukan selama bertahun-tahun, dan sempat menghinggapkan rasa jenuh.

“Namun setelah Subak Sembung berubah menjadi ekowisata, kami menjadi bersemangat kembali menjadi petani bunga. Ada hiburan setiap hari melihat orang berlalu lalang olahraga. Ada juga pengunjung yang membeli bunga, sehingga kami bersemangat bertanam bunga ini,” kata Cangker.

Menurut Cangker, kalau mendekati hari raya Galungan dan Kuningan, harga bunga pacar per kilogram mencapai Rp 50. 000. Namun kalau hari-hari biasa, harga bunga pacar bisa anjlok berkisar Rp 10.000. “Tapi kami tidak pernah merugi dalam bertani bunga pacar ini. Apalagi sejak ada ekowisata ini, pembeli bunga jadi ramai. Kalau beli bunga sama kami kan dijamin masih segar dan harum,” kata Cangker bersemangat, seraya menyerukan kegembiraan dengan dibukanya Ekowisata Subak Sembung.

Cangker menyebutkan, warga bersemangat dan menyambut baik kehadiran Ekowisata Subak Sembung. Sambutan ini sebagai rasa syukur atas harapan atau asa untuk menggapai hidup yang lebih berkualitas. Hadirnya Sembung Subak telah dirasakan mampu menggerakkan, dan memberdayakan perekonomian warga setempat. Mampu menyambungkan asa untuk mengubah nasib menjadi lebih baik, tanpa harus pergi jauh meninggalkan tanah kelahiran.

“Dulu masyarakat banyak yang bingung cari kerja di luar. Sejak adanya Subak Sembung, warga jadinya berpikir untuk bertahan dan membangun desa, berusaha berpikir untuk menciptakan lapangan pekerjaan tanpa meninggalkan desa,” ujar Cangker.

Peran Maksimal Astra

Keberadaan Ekowisata Subak Sembung Banjar Pulugambang, Peguyangan, tidak terlepaskan dari peran perusahaan Astra. Sejak tahun 2015, Astra telah turun bergerak langsung bersama masyarakat demi mempertahankan oase di lahan Kota Denpasar, yang sebagian besar telah terkepung deru pembangunan.

 

Banjar Berseri Astra

Koordinator CSR Astra Group Bali Haris Prasetya menyatakan, pihak Astra turut mengembangkan ekowisata Subak Sembung dan hal ini telah terjalan hampir tiga tahun, tepatnya sejak Juni 2015. Berkat sinergi yang terjalin antara warga setempat dan instansi terkait, maka pengembangan ekowisata ini dapat berjalan dengan baik. Ekowisata Subak Sembung kini telah menjadi sarana rekreasi yang menjadi pilihan warga Denpasar dan sekitarnya.

Haris mengatakan, selama ini Astra berperan untuk menjembatani guna menggali, mengangkat sekaligus mengembangkan segenap potensi di wilayah Banjar Pulugambang, Peguyangan. Pengembangan potensi ini, antara lain diwujudkan dengan turut menata kawasan Subak Sembung sehingga dari area persawahan biasa, kini telah berubah menjadi ekowisata kebanggaan Kota Denpasar.

“Pada areal subak, misalnya di tepi jogging track, kami adakan penghijauan dengan tanaman puring dan beragam tumbuhan lain. Penghijauan ini untuk memperindah area Subak Sembung, sekaligus warga bisa memetiknya untuk sayuran. Seperti tanaman turi, yang dapat dipetik daun dan bunganya untuk sayuran,” katanya.

Tidak hanya dari sisi fisik subak, Astra pun turut berkontribusi dengan memberikan motivasi untuk membangun sumber daya manusia (SDM) supaya siap sebagai pelaku wisata. Diharapkan, motivasi ini dapat membuat warga Pulugambang mampu merawat, melestarikan dan menjaga potensi ekowisata Subak Sembung. Serta bersikap ‘welcome’ kepada turis atau pengunjung yang hendak bersantai menikmati kehijauan alam Subak Sembung.

“Nanti ke depan pengunjung tidak hanya sekedar olahraga di jogging track, tetapi bisa ikut panen padi, petik sayur dan bunga atau menangkap keong serta belut di Subak Sembung. Ini kegiatan biasa bagi penduduk, namun menawarkan sensasi tersendiri bagi pengunjung. Dan sekali lagi, Astra akan selalu menjadi jembatan sehingga aspirasi warga dapat terwujud,” kata Haris.

Pada akhir pembicaraan, Haris menegaskan pada tahun 2019 Astra Group Bali akan fokus menangani bidang kesehatan masyarakat di Banjar Pulugambang. “Khusus untuk Subak Sembung, kami akan mulai melakukan pelatihan manajemen UMKM bagi warga pada tahun 2019. Lokasi Subak Sembung kan sudah bagus, perlu manajemen UMKM sehingga keberadaan masyarakat pelaku usaha dapat menjadi bagian yang mendukung ekowisata itu,” ucap Haris. (Tri Vivi Suryani)