C5 Pamerkan 25 Karya Masterpiece di Santrian Gallery

Denpasar, LenteraEsai.com – Sebanyak 25 karya yang menampilkan karakter dan ciri khas kuat  dari13 seniman dipamerkan di Santrian Gallery, Sanur, Denpasar, Kamis (10/1/2019).

Masing-masing dari 13 seniman yang tergabung dalam wadah C5 itu adalah: Agus ‘Baqul’ Purnomo, I Nyoman Diwarupa, Galung Wiratmaja, I Ketut Agus Murdika, I Ketut Sugantika (Lekung), I Komang Trisno Adi Wirawan, I Wayan Arnata, Ipong Purnama Sidhi, Iqrar Dinata, Laila Tifah, M Dwi Marianto, Nofria Doni Fitri, dan Syahrizal Koto.

 

C5 sesungguhnya merupakan gabungan dari critical (kritis), communication (komunikasi), collaboration (kolaborasi), cooperation (kooperasi) dan creativity (kreativitas). C5 menjadi nama wadah sekaligus tema utama yang diangkat dalam menyelenggarakan kegiatan pameran.

Saat mengadakan jumpa pers di Santrian Gallery, salah seorang seniman I Ketut Sugantika (Lekung)  mengatakan bahwa C5 dibentuk tahun 2017. Seniman yang bergabung di dalamnya berasal dari Bali, Jogjakarta dan Jakarta.

“Ini ajang pameran kedua, yang kami anggap lebih sebagai ruang untuk belajar, membangun, membangkang kesadaran, peduli pada lingkungan, serta mengkritisi diri,” ujar Lekung.

 

Dia menambahkan, hal lain yang diangkat adalah belajar arti terkoneksi atau saling terhubung satu sama lain.

Anggota C5 yang saat ini berjumlah  13 perupa. Terdiri atas 1 Jogjakarta, 6 Jogjakarta dan 6 seniman Bali. Mereka sama-sama ingin belajar kerja sama untuk menuju arah yang baik. “Tapi pada dasarnya manusia selalu belajar dengan cara yang inovatif dan kreatif. Nah, kalau di C5 garis besarnya untuk memperluas jaringan, kerja sama, serta mengusung pesan guna membangun kesadaran menjaga lingkungan,” katanya.

Sementara itu, seniman asal Jogjakarta Iqrar Dinata menyebutkan, C5 adalah sebuah kelompok seniman sekaligus materi tema yang selalu direalisasikan pada karya.

“C5 ini dibentuk hasil obrolan para seniman untuk tidak hanya, bahwa pameran riska hanya eksplore karya. Tapi ada pertanggungjawaban dari karya serta menampilkan kolaborasi antara seniman di daerah, tanpa terikat jarak,” ujar Iqrar.

Aliran berkarya dari anggota C5 merupakan bawaan para seniman, dan mereka dibebaskan untuk berekspresi tanpa ada pembatasan. Tanpa ada yang  dikotak-kotakkan. Konsep ini sudah dirumuskan sejak awal C5 dibentuk dan terus dipertahankan hingga ke depan.

“Dan konsep ini akan terus dipertahankan anggota yang tergabung dalam wadah C5. Dan berikutnya kegiatan roadshow akan terus dilanjutkan, di mana masing-masing seniman C5 menampilkan karya masterpiece untuk dipamerkan,” ujarnya.

Moderator dalam jumpa pers praktisi seni Dolar Astawa menekankan bahwa C5 kali ini mengusung spirit mengkritisi lingkungan, yang berasal dari lingkungan terdekat mereka.

“Pameran ini untuk mengungkapkan kegelisahan seniman yang mengkritik lingkungan di sekitarnya. Dan benang merah di antara mereka adalah kritik dan penyadaran ke masyarakat, yang diwujudkan lewat karya di kanvas,” kata Dolar. (LE-DP)