‘Semesta Kita’, Parade Film Karya Seniman Berkebutuhan Khusus

Gianyar, LenteraEsai.com – Program Sinema Bentara di Bentara Budaya Bali (BBB) kali ini diselenggarakan tertaut agenda pameran dan program seni ‘Semesta Kita’, berlangsung selama dua hari, Jumat (25/1/2019) dan Sabtu (26/1/2019), di Jl. Prof. Ida Bagus Mantra No.88A, bypass Ketewel, Gianyar.

Film-film yang ditayangkan mengedepankan sosok-sosok ‘berkebutuhan khusus’, misal disleksia, autisme, tuna rungu, dan lain-lain. Mareka adalah sosok-sosok yang terpinggirkan namun terbukti melahirkan karya-karya yang unggul, menarik, dan cemerlang.

Adapun pameran “Semesta Kita” digelar di BBB pada 18-27 Januari 2019, mengetengahkan karya-karya seni rupa terpilih 4 seniman muda “berkebutuhan khusus”, yaitu Aqillurachman Prabowo (14), Naripama Ramavijaya (16), Raynaldy Halim (21) dan Anfield Wibowo (14).

Hari pertama ditayangkan film Indonesia berjudul Wonderful Life karya Agus Makkie yang berangkat dari kisah nyata Amalia Prabowo menemani sang putra, Aqil, menjalani berbagai terapi untuk disleksia. Tidak ketinggalan, film kedua yakni Bird People. Film ini merupakan buah cipta sutradara asal Prancis menelisik tentang seseorang pemuda mapan yang bekerja di Silicon Valley Amerika mengambil keputusan di luar nalar dan logika umumnya, dan kemudian menemukan ‘dunia’ atau kehidupan yang sungguh berbeda.

Termasuk pula film Ayah, Mengapa Aku Berbeda? karya sineas Indonesia Findo Purwono, menghadirkan sosok gadis remaja Angel yang tunarungu mengalami pengalaman keseharian yang tidak mudah, bukan saja dari pihak keluarganya termasuk ayah ibu, melainkan juga dari pandangan masyarakat yang masih terbelenggu stigma tentang aib kehidupan.

Di hari kedua, ditayangkan film Italia karya maestro Federico Fellini berjudul La Vocce Della Luna. Film ini bercerita tentang bisikan jiwa yang hanya bisa didengar oleh orang-orang gila dan gelandangan. Kisah film fantasi ini berangkat dari karya sastra II poema dei lunatici karya Ermano Cavazzoni, tentang Micheluzzi bersaudara yang terobsesi menangkap bulan. Selain itu, film asal Jerman Schönefeld Boulevard pula turut diputar. Film karya sutradara Sylke Enders ini mengisahkan tentang remaja yang sehari-hari berhadapan dengan perundungan karena kekurangan fisiknya.

Program ini masih diselenggarakan dengan konsep Misbar, mengedepankan suasana nonton bersama yang hangat, guyub, dan akrab. Acara ini didukung oleh Bioskop Keliling Kemendikbud RI – BPNB Bali Wilayah Bali, NTB, NTT, Institut Français d’Indonésie, Alliance Française Bali, Konsulat Kehormatan Italia di Denpasar, Goethe Institut Jakarta dan Udayana Science Club.

Selaras program ini digelar pula Diskusi Sinema bersama I Gusti Ayu Diah Fridari, PhD. Dosen psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana ini mengungkapkan bahwa autism dan disleksia merupakan penyakit yang sudah tampak pada masa pertumbuhan. Selain dua hal tersebut, masih banyak macam penyakit gangguan mental yang ada. Berkaitan dengan dunia sinema, ada pula aktor seni peran yang menderita bipolar disorder.

Bila ditelisik lebih jauh, bipolar disorder ini diibaratkan memiliki 2 kutub yakni kutub tinggi dan kutub rendah. Ciri-cirinya adalah orang yang menderita penyakit ini akan merasakan kepanikan yang luar biasa. Lain halnya pada orang yang berada di kutub tinggi, biasanya orang ini akan bahagia non-stop¬, punya banyak energi dan bicaranya cenderung cepat. Kebalikannya, orang yang berada di kutub rendah biasanya ia akan mengalami kesedihan dan keterpurukan yang mendalam, serta merasa diri tidak berguna.

Diah Fridari, yang menyelesaikan pendidikan masternya di Universitas Airlangga dan doktor di Sofia University (former Institute of Transpersonal Psychology), Palo Alto, California ini juga berbagi perihal penanganan untuk orang-orang yang mengalami kelainan mental, di antaranya Sekolah Luar Biasa dan Rumah Berdaya bisa dijadikan sebagai tempat untuk orang-orang berkebutuhan khusus ini bersosialisasi.

Selain itu, penyakit-penyakit kelainan mental, khususnya bipolar disorder ini masih belum ada obatnya. Maka, harus adanya treatment khusus, semisal melakukan pendekatan dan berdialog dengan mereka, serta mengarahkan energi-energi luar biasa yang mereka miliki ke wadah yang lebih berarti, semisal dengan membuat karya atau berkreasi.

Adanya ketidakadilan terhadap orang-orang berkebutuhan khusus ini harus mulai dikurangi. Pertama-tama, stigma negatif dari lingkungan sekitar harus dihilangkan. Kemudian, berusaha mendengarkan dan memahami semesta mereka. Bagaimana pun orang-orang berkebutuhan khusus ini memiliki peranannya masing-masing. Bahkan karena keberadaan mereka kita dapat belajar bersyukur, berlatih lebih sabar, dan dapat mengapresiasi sesama serta lingkungan sekitar. (LE-GA)