Tirtayatra ke Pesucian Alam Gaib di Pura Mekah

Pura Mekah

Amlapura, LenteraEsai.com – Pada ujung timur Pulau Bali, yakni di Dusun Batu Madeg, Desa Tista, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, terdapat pelinggih pura yang dipercaya mampu menebarkan aura spiritual yang kental.

Tempat ini tidak lain ialah Pura Mekah. Mungkin nama pura tersebut terkesan janggal, karena biasanya orang hanya mengenal Mekah sebagai tempat melaksanakan ibadah haji bagi umat Islam yang ada di negara Arabsaudi. Tak disangka, di Bali sendiri ada bangunan suci yang bernama Pura Mekah.

Keliang Banjar Dinas Tista, Aryana, ketika ditemui pada Kamis (14/3) siang mengatakan, Pura Mekah merupakan pura penyungsungan yang boleh dikunjungi seluruh umat Hindu. Terutama yang ingin melakukan persembahyangan.

“Pura Mekah diempon oleh sekitar 300 KK krama Banjar Adat Desa Batu Madeg, termasuk warga perantauan. Warga pengempon yang ada di desa hanya sekitar 180 KK, jika digabung dengan yang ada di perantauan sekitar 300 KK,” ujarnya

Aryana menambahkan, jika dilihat dari letak keberadaannya, konsep pura memang terkesan unik. Sebab di Pura Mekah sendiri terdapat tiga konsep bangunan pura terpisah.

Saat pertama kali memasuki halaman pura, pada sisi kanannya terdapat satu kompleks pura yang disebut Pura Jeroan. Kemudian dilanjutkan naik tangga lagi dalam beberapa meter, terdapat bangunan pura yang bernama Pesucian.

Pura Pesucian dipercaya sebagai tempat ‘perbersihan’ secara niskala atau alam gaib, yakni pesucian Ida Batara. Lalu naik lagi ke bagian mandala utama,  baru ketemu Pura Mekah, yang posisinya berada tepat di bawah lereng Bukit Kelindang yang merupakan perbatasan dengan Asah Datah.

“Ketiga konsep pura tersebut merupakan bentuk satu kesatuan dari Sesuhunan Ida Batara yang melinggih di Pura Mekah,” ujarnya, seraya menambahkan saat ini Pura Mekah sendiri sedang dilakukan perbaikan, yakni di pelinggih yang ada di utama mandala.

Sementara itu dari keterangan Gede Suparta, salah seorang warga yang mengaku baru belajar dunia spiritual menjelaskan, keberadaan Pura Mekah dipercaya sebagai linggih atau stananya Ida Batara Ayu Mas Mengetel, yakni yang diyakini oleh warga sebagai simbol kesejahteraan dan kemakmuran.

“Selain itu, Pura Mekah juga dipercaya sebagai stananya Daleming Dalem yang artinya pusat dalem,” katanya.

Terlepas dari itu, Suparta menyebutkan bahwa keberadaan Pura Mekah jarang terpublikasi. Namun demikian, saat aci atau piodalan di Pura Mekah yang jatuh pada Tumpek Lulut, banyak pemedek yang datang ke pura ini.

Pemedek yang datang selain pada umumnya untuk memohon keselamatan, juga tidak sedikit tokoh spiritual yang melakukan tapa semadi di pura tersebut. Bahkan ada juga warga yang nglungsur tamba atau pengobatan untuk penyembuhan penyakit.

“Saat aci di pura ini banyak yang datang baik untuk sembahyang, melakukan semadi bahkan ngelungsur tamba,” ujarnya menjelaskan.

Suparta menambahkan, di mandala pertama pura, yakni Pura Jeroan, merupakan linggih Batara Bagus dan Dukuh Sakti. Mandala kedua Pura Pesucian, dipercaya sebagai tempat pesucian alam gaib, dan konon ada telaga di alam niskala.

Meskipun di Pura Pesucian tidak ada sumber airnya, namun airnya muncul di kawasan lembah di pinggiran utara desa. Air yang ke luar tersebut dinamakan Beji Bingin. Oleh masyarakat setempat, air yang keluar dari kawasan itu selanjutnya digunakan sebagai pengairan atau irigasi untuk areal persawahan. (LE-NIC)