Mantan Wagub Bali Ditangkap di Bandara, Pengacara: ‘Wait and See’

4 April 2019, 17:55


Bali News - Ketut Sudikerta ketika dibawa ke Mapolda Bali

Denpasar, LenteraEsai.com – Mantan Wakil Gubernur (Wagub) Bali I Ketut Sudikerta ditangkap di Bandar Udara Ngurah Rai, Kuta, Badung, pada Kamis (4/4/2019) sekitar pukul 14.30 Wita.

Sebelumnya, pada November 2018, Ketut Sudikerta ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Bali, atas kasus dugaan penggelapan dan penipuan senilai Rp 150 miliar.

Menanggapi penangkapan mantan Wagub Bali di bandara, maka pengacara Ketut Sudikerta, yakni Togar Situmorang menyatakan, pihaknya memang sudah mendengar berita itu dari banyak pihak. Dan dinyatakan, berita itu valid alias benar.

“Namun, kalau kabar katanya Pak Sudikerta mau ke Singapura, wah itu saya tidak tahu. Apakah memang benar demikian, dan tujuannya bisnis atau apa? Untuk soal ini saya benar-benar tidak tahu karena sebelumnya beliau tidak pernah menginformasikan jika mau ke Singapura,” ujar Togar ketika dihubungi lewat sambungan telepon.

Ia menyatakan, selanjutnya ia hanya akan ‘wait and see’ atau menunggu. Meski saat ini statusnya masih sebagai pengacara atau kuasa hukum Ketut Sudikerta, namun khusus untuk masalah penangkapan, dirinya masih belum dihubungi oleh Ketut Sudikerta jika memang memerlukan pembelaan hukum.

Sementara itu, bergulirnya kasus yang menyeret Ketut Sudikerta ke ranah hukum bermula pada tahun 2013 lalu, ketika PT Maspion Group melalui anak perusahaannya PT Marindo Investama telah ditawari dua lahan tanah oleh Ketut Sudikerta. Masing-masing tanah itu seluas 38.650 m2 (SHM 5048/Jimbaran) dan seluas 3.300 m2 (SHM 16249/Jimbaran). Tanah yang seluas 3.300 m2 terletak di Desa Balangan, Jimbaran, Kuta Selatan.

Kedua tanah itu berada di bawah perusahaan PT Pecatu Bangun Gemilang, dengan Komisaris Utama tidak lain Ida Ayu Ketut Sri Sumiantini (istri Ketut Sudikerta). Direktur Utama PT Pecatu Bangun Gemilang dijabat Gunawan Priambodo.

Atas tawaran kedua tanah itu, PT Marindo Investama menyatakan ketertarikan sehingga membelinya dengan harga Rp 150 miliar. Belakangan akhirnya terungkap, bahwa tanah seluas 38.650 m2 (SHM 5048/Jimbaran) ternyata bersertifikat palsu. Sedangkan tanah kedua 3.300 m2 (SHM 16249/Jimbaran), sudah dijual pada pihak lain.

Hal ini membuat PT Marindo Investama mengalami kerugian senilai Rp 150 miliar, sehingga melalui penasihat hukumnya Sugiharto, lantas mengambil langkah melaporkannya kepada Polda Bali. Kasus ini kemudian bergulir, hingga kemudian pada Jumat (30/11/2018) Ketut Sudikerta ditetapkan sebagai tersangka. (LE-DP)