Tari Peninggalan Pan Balang Tamak Dipentaskan di Desa Nongan

8 April 2019, 22:23


Bali News - Ny Putri Koster memberikan apresiasi tinggi terhadap rekonstruksi tarian sakral ini

Rendang, LenteraEsai.com – Sebuah tarian sakral Rejang Pala yang telah berumur ratusan tahun, dipentaskan oleh ratusan warga berkaitan dengan Karya Ngusaba Dalem, Ida Bhatara Dalem Memasar di Pura Pesamuhan Agung Pasar Nongan, Desa Pakraman Nongan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Senin (8/4) siang.

Pementasan kembali tarian ‘purba’ tersebut menjadi semakin ‘angkeb’ dengan tampilnya seniman tari dan sastra kawakan Ny Putri Suastini Koster, yang juga istri Gubernur Bali Wayan Koster.

Ratusan pemedek yang memadati kawasan tempat upacara di Pasar Nongan, umumnya berdecak kagum menyaksikan lemah gemulainya jemari tangan dan lenggang lenggoknya Ny Putri Koster membawakan tarian bersama 200 penari lainnya, yang kesemuanya adalah wanita, baik dari kalangan anak-anak, remaja maupun dewasa.

Sebagai salah seorang seniman yang sering berkecimpung dalam dunia seni tari maupun seni panggung, Ny Putri Koster
memberikan apresiasi tinggi terhadap rekonstruksi tarian sakral ini. Menurutnya, membangkitkan kembali seni budaya yang hampir punah merupakan wujud nyata kepedulian warga terhadap warisan para leluhur.

Ditemui usai pegelaran, Ny Putri Koster menyebutkan, melestarikan seni dan budaya juga merupakan cerminan dari visi misi Gubernur Bali yaitu Nangun Sat Kerthi Loka Bali, di mana pelestarian tidak hanya dilakukan dari segi sekala/nyata semata, melainkan juga dari segi niskala yakni dengan Tuhan dan penghormatan kepada para leluhur.

“Untuk itu saya minta kepada para generasi muda di Bali, marilah kita mulai peduli untuk membangkitkan dan melestarikan seni budaya yang kita miliki, terlebih bagi unsur seni yang hampir punah,” ujarnya dengan menambahkan, upaya pelestarian karya seni hendaknya tidak hanya diwujudkan melalui pentas simbolis belaka, melainkan harus melalui upaya penggalian, untuk kemudian secara kontinyu dapat dipertunjukan.

Di tempat terpisah, salah seorang anggota tim rekonstruksi tari Rejang Pala, Wayan Arya Satyani, mengatakan bahwa tarian Rejang Pala ini berasal dari peninggalan Pura Pan Balang Tamak yang ada di Desa Nongan. Pada awalnya, di kalangan masyarakat desa setempat hanya beredar cerita bahwa rejang tersebut hanya berupa gelungan berisi buah-buahan dan dikeluarkan pada saat ada upacara, namun tidak ditarikan karena masyarakat tidak mengetahui bagaimana cara menarikanya.

Sehubungan dengan itu, lanjut Satyani, pihaknya bersama tim dari Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar melakukan
penelusuran sejarah untuk dapat merenkonstruksi tarian yang disakralkan tersebut, hingga kemudian berhasil dilakukan.

Ia mengatakan, tari Rejang Pala memiliki makna dan tujuan untuk memohon keselamatan dan kesuburan yang gemah limpah loh jinawi, terutama pada subak abian. Karenanya, para penari yang tampil membawakan tarian, dihiasi dengan gelungan yang berisi buah-buahan lokal.

“Kami berharap tarian ini dapat mewakili sejarah yang ada di Desa Nongan, khususnya di Pura Pan Balak Tamak, yang pada
gilirannya sejarah yang ada diharapkan pula dapat diketahui dan dinikmati oleh generasi muda saat ini,” katanya
mengharapkan. (LE-Adv)