Kasus Air Panas Dituding Setingan, Pengacara Korban: Keterlaluan Dibilang Korengan!

21 Mei 2019, 15:42


Bali News - Korban penyiraman air panas, Eka Febriyanti

Denpasar, LenteraEsai.com – Supriyono SH M Hum selaku penasihat hukum atau pengacara korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) kasus penyiraman air panas, yakni Eka Febriyanti ( 21, dan adik tirinya, Santi Yuni Astuti (19), mengancam akan mempolisikan Alit Rama terkait tudingannya yang dinilai ngawur.

“Masa Alit Rama yang mengaku sebagai paman jauh pelaku penyiram air panas, Desak Made Wiratningsih, menuding kalau kasus penyiraman air panas adalah setingan? Ini sangat konyol, ngawur dan bukan semestinya seseorang berintelektual seperti Alit Rama mengatakan hal itu,” kata Supriyono ketika dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Selasa (21/5/2019) siang.

Supriyono lebih menyayangkan lagi, karena Alit Rama menyatakan kalau luka yang dialami korban Eka adalah korengan. Bukan luka akibat disiram air panas oleh Desak Wirat.

Atas pernyataan Alit Rama, dengan tegas Supriyono mengatakan akan memberikan somasi dan mengancam akan mempolisikannya jika dalam tempo 7 hari tidak jua memberikan klarifikasi atas pernyataannya tersebut. “Kan Alit Rama itu seorang pengacara dan caleg terpilih di DPRD Gianyar? Sudah banyak malang melintang di mana-mana, pada berbagai organisasi masyarakat. Masa tidak bisa membedakan mana korengan dan mana luka tersiram air panas? Kan artinya melecehkan kinerja Polda Bali, yang sudah menetapkan Desak Wirat sebagai tersangka,” kata pria yang membuka praktik hukum di Situbondo, Jatim, menyesalkan.

Sementara itu, kasus kekerasan penyiraman air panas bermula pada 7 Mei 2019. Saat itu, Desak Wirat menyuruh Eka mencari gunting yang dinyatakan hilang di rumah. Setelah beberapa saat, gunting tidak kunjung ditemukan. Akibatnya, Desak Wirat langsung marah-marah sambil mengancam akan menyiram Eka dengan air panas, jika gunting tidak juga ditemukan.

Mendapat ancaman itu, Eka yang berasal dari Jember-Jatim, dengan susah payah melakukan upaya pencarian di berbagai pojok kamar dan di sekitar rumah, namun hingga siang hari barang yang dicari tidak juga ditemukan.

Desak Wirat yang menjadi semakin berang, lantas menyuruh Santi untuk merebus air panas sebanyak 2 panci. Setelah itu, Eka disuruh naik ke lantai atas rumah. Sesampai di lantai atas, sudah ada Desak Wirat beserta anaknya, Santi dan ‘security’ Kadek Erik.

Eka lantas disuruh mendekat dan melihat ke air panas yang sudah disiapkan. Setelah itu, Desak Wirat kembali menanyai soal gunting yang hilang, dan Eka menjawab tidak ketemu.

Selanjutnya, Desak Wirat mengambil air panas menggunakan gelas plastik dan menyiram tubuh Eka mulai dari kepala secara perlahan-lahan. Berikutnya, Desak Wirat memaksa Santi melakukan penyiraman serupa terhadap Eka, demikian juga kepada Kadek Erik.

Penyiraman air panas oleh Desak Wirat, Santi dan Kadek Erik itu, dilakukan sampai menghabiskan isi kedua panci. (LE-DP)