Pengacara Korban Air Panas Akan Laporkan Wakil Rakyat Terpilih ke Polisi

9 Juni 2019, 11:35


Bali News - Eka Febriyanti korban penyiraman air panas

Denpasar, LenteraEsai.com – Supriyono SH MHum, penasihat hukum atau pengacara korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), yakni kasus penyiraman air panas terhadap korban Eka Febriyanti (21), mengancam akan mempolisikan Alit Rama terkait tudingannya yang dinilai ngawur.

“Masa Alit Rama yang mengaku sebagai paman jauh dari pelaku penyiram air panas, Desak Made Wiratningsih, menuding bahwa kasus penyiraman air panas terhadap korban Eka, adalah setingan. Ini sangat konyol, ngawur dan bukan semestinya seseorang berintelektual seperti Alit Rama mengatakan hal seperti itu,” kata Supriyono ketika dikonfirmasi melalui sambungan telepon dari Denpasar, Minggu (9/6/2019).

Supriyono lebih menyayangkan lagi, karena Alit Rama menyatakan kalau luka yang dialami korban Eka adalah korengan. Bukan luka akibat disiram air panas oleh Desak Made Wiratningsih alias Desak Wirat.

Atas pernyataan Alit Rama yang dilansir sejumlah media massa seperti itu, dengan tegas Supriyono mengatakan akan memberikan somasi dan mengancam akan melapor ke pihak kepolisian, jika dalam tempo 7 hari tidak jua memberikan klarifikasi atas pernyataannya tersebut.

“Kan Alit Rama itu seorang pengacara dan caleg terpilih di DPRD Gianyar?. Sudah banyak malang melintang di mana-mana pada berbagai organisasi masyarakat. Masa tidak bisa membedakan mana korengan dan mana luka bekas disiram air panas?. Kan ini juga artinya melecehkan kinerja Polda Bali, yang sudah menetapkan Desak Wirat sebagai tersangka,” kata pria yang membuka praktik hukum di Situbondo, Jatim, menyesalkan.

Sementara itu, kasus kekerasan penyiraman air panas bermula pada 7 Mei 2019. Saat itu, Desak Wirat menyuruh Eka mencari gunting yang dinyatakan hilang di rumah. Setelah beberapa saat dicari, gunting tidak kunjung ditemukan. Akibatnya, Desak Wirat langsung marah-marah sambil mengancam akan menyiram Eka dengan air panas, jika gunting tidak juga ditemukan.

Mendapat ancaman itu, Eka yang berasal dari Jember, Jatim, dengan susah payah kembali melakukan upaya pencarian di berbagai pojok kamar dan di sekitar rumah, namun hingga siang hari barang yang dicari tidak juga ditemukan.

Desak Wirat yang menjadi semakin berang, lantas menyuruh Santi (adik tiri Eka Febriyanti yang juga jadi pembantu di rumah Desak Wirat), untuk merebus air panas sebanyak 2 panci. Setelah air mendidih, Eka disuruh naik ke lantai atas rumah. Sesampai di lantai atas, sudah ada Desak Wirat dan anaknya,  beserta Santi dan ‘security’ Kadek Erik.

Eka lantas disuruh mendekat dan melihat ke air panas yang sudah disiapkan dalam dua buah panci. Setelah itu, Desak Wirat kembali menanyai soal gunting yang hilang, dan Eka menjawab tidak ketemu.

Selanjutnya, Desak Wirat mengambil air panas menggunakan gelas plastik dan menyiram tubuh Eka mulai dari kepala secara perlahan-lahan. Berikutnya, Desak Wirat memaksa Santi melakukan penyiraman serupa terhadap Eka, demikian juga kepada Kadek Erik.

Penyiraman air panas oleh Desak Wirat, Santi dan Kadek Erik itu, dilakukan sampai menghabiskan isi kedua panci, hingga kulit di bagian punggung, dada dan wajah korban melepuh.

Tidak hanya itu, dari hasil penyelidikan polisi, tersangka Desak Wirat juga kerap melakukan penganiayaan serupa terhadap Santi Yuni Astuti, adik tiri korban Eka, yang juga bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah tersangka Desak Wirat.

Atas perbuatannya itu, baik Desak Wirat maupun ‘security’ Kadek Erik, telah ditetapkan pihak Polda Bali sebagai tersangka. Sementara Santi, dinyatakan terbebas dari jeratan hukum, sehubungan apa yang dia lakukan berada dalam tekanan dan pemaksaan oleh majikannya yang dinilainya sangat keras dan galak. (LE-DP)