Dandim Jembrana dan Kadistan Pantau Kekeringan di Subak Manistutu

13 Juli 2019, 18:24


Bali News - Dandim Jembrana dan Kadistan Pantau Kekeringan di Subak Manistutu

Jembrana, LenteraEsai.com – Program pemerintah melalui Kementerian Pertanian bekerja sama dengan TNI Angkatan Darat (TNI AD) dalam upaya pengembangan pertanian khususnya persawahan, terus bergulir guna mewujudkan swasembada pangan masyarakat Indonesia, khususnya bagi warga di wilayah Kabupaten Bumi Makepung yang merupakan bagian teritorial dari Kodim 1617/Jembrana.

Bersumber dari program inilah yang mendorong Dandim 1617/Jembrana Letkol Kav Djefri Marsono Hanok terjun langsung memantau lokasi areal persawahan Subak Manistutu Barat, Banjar Ketiman, Desa Manistutu, Kecamatan Melaya,  Kabupaten Jembrana, yang kondisinya kini tidak mendapat pasokan air akibat adanya musim kemarau yang cukup panjang.

Mencermati hal tersebut serta melihat peran kelompok tani dengan aparat Babinsa setempat, Dandim dapat memahami kesulitan yang dialami oleh para petani, sehingga ke depannya perlu dicarikan solusi dan diberikan kemudahan guna mengoptimalkan kembali program pertanian dan pencapaian hasil yang selama ini tergolong cukup baik.

Dandim mengungkapkan, saat pihaknya melakukan pertemuan dengan aparat di Kementerian Pertanian, diperoleh gambaran bahwa  kelompok tani atau para petani yang sawahnya tidak mendapat pasokan air, nantinya akan didukung sumur bor .

Menurut dia, beberapa sumber air termasuk yang dari aliran Subak Manistutu Barat, belakangan mengering akibat dibentak musim kemarau cukup panjang. “Nantinya bila sudah dibantu sumur bor, senantiasa kita tidak melihat lagi dampak  kekeringan yang dapat membawa efek gagal panen,” katanya, menjelaskan.

“Setiap Subak yang membutuhkan sumur bor akan didukung,” ujar Dandm Djefri,  Jumat (12/7), di lokasi Subak Manistutu.

Untuk diketahui,  hampir 48 persen tanaman padi yang ada di Kabupaten Jembrana pada tahun 2019 ini terancam kekeringan akibat musim kemarau yang terjadi sampai saat ini.

Prediksi petani awalnya tidak seperti ini. Contohnya seperti di Subak Manistutu Barat, di awal memang cukup air tetapi tanpa diantisipasi ternyata selama 2 bulan terakhir kondisi arealnya kekeringan. Dari 6.200 hektar lahan yang ada, 147 hektar di antaranya terancam kekeringan.

Khusus untuk di Subak Manistutu Barat, disampaikan bahwa ada 30 hektar lahan terancam gagal panen, bahkan  separuhnya sudah tidak lagi bisa diselamatkan.

Dandim mengaku akan mengadakan Satgas Patroli yang melibatkan Babinsa sebagai ujung tombak untuk memantau lahan persawahan yang dilanda kekeringan, khususnya di wilayah Kabupaten Jembrana, sehingga bencana kekeringan senantiasa cepat bisa ditangani.

Turut hadir dalam kunjungan tersebut, Kadis Pertanian dan Pangan Pemerintah Kabupaten Jembrana I Wayan Sutama. Ia berharap ke depan bantuan-bantuan yang akan diberikan  dapat berjalan efektif dan efisien.

“Kadang-kadang pemahaman petani kita kaitannya dengan bantuan seperti sumur bor ini dianggap sebagai sumber pengairan utama. Padahal harapan kita sebetulnya hanya sebagai bantuan pendukung saja di saat-saat dibutuhkan,” ujar I Wayan Sutama.

Dalam kesempatan itu juga Dandim menyampaikan Indonesia sebagai negara agraris wajar saja apabila mempunyai cita-cita menjadi lumbung pangan dunia di tahun 2050.

Menurut Dandim, untuk mendapatkan pencapaian tersebut harus mempunyai modal besar, tekad dan sarana penunjang serta para petani yang profesional. Salah satu persyaratan untuk mencapai lumbung pangan dunia adalah dengan meningkatkan LTT (luas tambah tanam) secara nasional ,sehingga bisa mencapai target 1 juta ton gabah per tahunnya. (LE-JB)