Seratus Lebih Lukisan Nyoman Sukari Dipamerkan di Taman Budaya Yogyakarta

27 Juli 2019, 01:19


Bali News - Sejumlah tokoh berfoto di depan salah satu lukisan karya Nyoman Sukari

Yogyakarta, LenteraEsai.com – Sebanyak 138 bentuk rupa karya almarhum Nyoman Sukari dipamerkan dalam ajang bertajuk ‘Trajektory Phosthumous Solo Exibition of Nyoman Sukari’ yang dilangsungkan di Taman Budaya Yogyakarta mulai tanggal 26 Juli – 12 Agustus 2019.

Bentuk rupa karya seniman serba bisa sejumlah itu, 50 di antaranya lukisan, 13 ‘drawing on canvas’, 29 akrilik dan karya watercolor, 35 sketsa dan 11 ‘mixed media on carton’.

Pameran karya pelukis kelahiran Desa Ngis, Manggis, Kabupaten Karangasem itu terselenggara berkat kolaborasi Sarasvati Art Management, Oei Hang Djien (OHD) Museum, dan beberapa pelukis Bali yang bergabung dalam Sanggar Dewata Indonesia.

Pembukaan pameran secara resmi dilakukan oleh Prof Bandem melalui sajian performance tarian Bali, setelah didahului aksi sajian musik yang atraktif. Saat itu, salah satu putra Nyoman Sukari, Pande Wayan Narawara memainkan alat musik seruling.

Nyoman Sukari bersama Megawati Soekarnoputri

Pameran ini mengusung karya Sukari yang paling besar secara kuantitas dan lengkap dari berbagai periode artistiknya yang dapat dinikmati oleh publik seni rupa Indonesia dan internasional. Ajang kesenian ini bertujuan mengundang pengunjung untuk menimbang pengaruh dari pasar seni rupa, mitos kultural dan juga kekuatan kreativitas dari seorang Sukari.

Ketut Sugita, adik kandung Nyoman Sukari, mengatakan, saudaranya tersebut merupakan sosok seniman yang serba bisa. Bakat seni yang dimiliki, baik seni lukis, tabuh maupun tari telah dikuasainya sejak kecil.

“Saya ingat betul, media apapun yang ia dapatkan, seperti kayu, bambu atau kertas akan menjadi suatu karya seni yang indah dan ‘metaksu’. Dalam melukis Sukari kadang sambil mendendangkan kidung sakral atau tetabuhan gong yang diputar lewat pita kaset. Bahkan saat melukis kadang melakukan gerakan seperti orang menari atau agem tari
Bali,” kata Sugita yang juga merupakan seniman tabuh dan tari.

Ketut Sugita, adik Nyoman Sukari

 

Dia melanjutkan, banyak pelajaran dan wejangan berharga yang didapatnya dari almarhum Sukari. Seperti bagaimana menghargai karya orang lain. “Kata-katanya yang selalu teringat adalah berkesenian itu ibarat ngayah, jadi lakukan dengan tulus. Atau nasihat lain agar dapat berbagi dengan orang lain, meski sekecil apapun,” katanya penuh haru.

Sebagai kilas balik, Sukari yang berasal dari Ngis, Manggis, Karangasem ini lahir pada 6 Juli 1968 dan meninggal dunia di usianya jelang 42 tahun, tepatnya 12 Mei 2010. Sukari tercatat telah menuntaskan pendidikan di ISI Yogyakarta. Selama ini, ia dikenal sebagai seniman yang penuh kontradiktif dan pernah mendapatkan berbagai
pernghargaan seni lukis yang telah diperoleh sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD), SMP, SMSR hingga mahasiswa di ISI Yogyakarta.

 

Pada masa-masa produktif berkesenian, karya Sukari telah menjadi rebutan dari kolektor khususnya pada periode 1994 dan tahun 1995. Pribadi dan karya-karyanya merupakan fenomena menarik dalam seni rupa Indonesia, utamanya dalam sikap kesenimanan, kualitas kreatif, dan makna-maknanya. Baginya, martabat merupakan posisi yang pantas diperjuangkan sebisa mungkin diraih dan dipertahankan.

Sukari sangat waspada pada keteguhan pasar seni (sekitar 1990-2000 an). Dengan cerdas ia bersikap memilih mengambil jarak dalam lorong kewajaran. Karena itu, ia tak mengalami turbulensi dan kontraksi terkait pasar. Baginya, tak ada kesulitan menempuh pilihan itu, karena memilih jalan asketik ; berkesenian sebagai kerja kebudayaan. Laku kesenian sebagai ‘bakti yoga’, menyerahkan diri sepenuhnya pada profesi pilihanya.

Ia meyakini seberapa pentingnya darma, kesadaran terhadap sekala niskala yang nyata dan yang gaib. Karena itu, karya-karya Sukari memiliki kekuatan berlapis, monumetalisasi faset- faset kehidupan, harapan dan doa-doa bagi istri, anak-anak-nya dan semesta. Karyanya merupakan paduan yang beku dan yang hidup, antara sunyi dan teriakan; antara yang diam dengan yang bergerak.

Sementara itu, pelukis Made Wiradana yang merupakan teman baik Nyoman Sukari sejak masa kuliah mengatakan, seorang Sukari adalah seniman unik, fenomenal, bertalenta dan tidak akan ada gantinya. “Karya-karya garang dan penuh mistis,” kata Wiradana.

Dia menambahkan, semasa hidupnya Sukari dikenal sebagai sosok yang setia kawan dan senantiasa peduli dengan siapapun. “Tidak memandang yunior dan senior, dia selalu ada di kala kawan tengah susah,” ujar Wiradana yang dikenal sebagai pelukis yang sering berpameran hingga ke mancanegara.

Acara ini dihadiri sejumlah tokoh pelukis kenamaan nasional dan sejumlah seniman dari Bali, yang mengenal baik ketokohan Nyoman Sukari maupun mengagumi karya-karyanya. (LE-YY)