Legenda Sigit Budiarto: Sedih Audisi Beasiswa Bulu tangkis Berhenti

10 September 2019, 15:12


Bali News - Legenda Sigit Budiarto: Sedih Audisi Beasiswa Bulu tangkis Berhenti

Kudus, LenteraEsai.com – Rasa galau tak terkira menggelayuti legenda ganda putra Indonesia Sigit Budiarto saat mendengar rencana PB Djarum menghentikan audisi beasiswa bulu tangkis mulai tahun depan.

“Saya sangat menyayangkan kalau keputusan itu benar-benar terjadi. Saya merasakan betul bagaimana PB Djarum membina atlet bulu tangkis sejak usia dini,” tegas juara dunia bulutangkis 1997 berpasangan dengan Candra Wijaya ini.

Ditemui di Kudus, pria kelahiran Yogyakarta, 24 November 1975 menjelaskan, ia mulai melatih di PB Djarum sejak tahun 2007.

“Buat saya, melatih anak-anak muda itu sangat menyenangkan. Tantangan yang dihadapi yakni bagaimana memajukan kemampuan mereka dengan cepat. Di situlah saya berpesan agar jangan bosan belajar dan berlatih,” urai anggota tim Indonesia saat meraih Piala Thomas pada 1998, 2000, dan 2002.

Di antara prestasi Sigit membawa tim Merah Putih hattrick meraih Piala Thomas, perhelatan 1998 sangat melekat di memorinya. Saat itu, Indonesia tengah dilanda krisis moneter, berlanjut pada krisis politik yang berujung pada pergantian kepemimpinan nasional.

Kenangan di Hong Kong

Bertanding di Hong Kong, manajer Tim Piala Thomas dan Uber Indonesia saat itu, alm. Letjen TNI Agus Wirahadikusumah menenangkan Sigit, Candra, Hariyanto Arbi, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Hendrawan. Susi Susanti, Mia Audina, Zelin Resiana dan kawan-kawan.

“Jangan panik tentang apa yang terjadi di Indonesia. Keluarga akan dilindungi. Kita semua berjuang untuk Indonesia. Buktikan bahwa merah putih masih ada,” kata Agus Wirahadikusumah.

Demonstrasi besar-besaran berujung kerusuhan di tanah air membuat konsentrasi para pemain terbelah. Hantaman psikologis dan mental menjadi kendala tersendiri untuk mempertahankan Piala Thomas dan Uber.

Alhasil, keluarlah solusi dari sang manajer yang memperbolehkan semua atlet untuk menghubungi sanak keluarganya di Indonesia. Hasilnya, tagihan telepon pun membengkak hingga Rp 200 juta. Tak heran, karena pada momen krismon itu rupiah terdepresiasi 400 persen dari Rp 2.800 menjadi Rp 14 ribu per dolar AS.

Sigit Budiarto, pria yang saat ini menjadi salah satu jajaran pelatih profesional di PB Djarum pun bingung dan gelisah saat memikirkan keluarga di rumah. Pada saat yang bersamaan, ia pun harus berkonsentrasi dan siap bertanding.

Namun, karena tekad dan tanggung jawab sebagai atlet profesional, sekaligus ingin membuktikan kecintaan, loyalitas dan dedikasi kepada bangsa, Sigit dan Candra memastikan kemenangan menjadi 3-1 atas Malaysia di laga final, sekaligus mempertahankan Piala Thomas di tahun 1998.

Sigit dan Candra bahu-membahu menghempaskan pasangan ganda Malaysia Lee Wan Wah/Choong Tan Fook 15-11, 15-12. Partai final berlangsung 24 Mei 1998, saat reformasi tengah bergejolak dalam kuali panas di Jakarta.

Sukses mempertahankan Piala Thomas, tim sempat menunggu beberapa hari di Hong Kong sembari melihat situasi di tanah air. Ketika keadaan mulai kondusif, atlet diperbolehkan untuk pulang. Tapi, sesampainya di Jakarta, tidak ada seorang pun yang berani untuk keluar mengikuti arak-arakan tim Thomas Cup karena keadaan cukup genting.

Saat itu Sigit mengingat, kondisi ibu kota sangat tegang dan memprihatinkan. Ruko dan gedung di pinggir jalan pecah kacanya dan terbakar, demikian pula taman serta pagar pembatas jalanan banyak yang rusak.

Tak hanya itu, respon warga di jalan terlihat panik seolah takut kerusuhan bakal terulang ketika mobil tim Thomas dan Uber lewat menggunakan sirine.

“Saya ingat, sampai kami para atlet harus turun, meyakinkan satu per satu orang untuk ikut arak-arakan hingga ke Istana Negara,” kenang Sigit.

Atlet binaan PB Djarum ini ingat betul, tim Thomas dan Uber Cup Indonesia saat berangkat dilepas oleh Presiden Soeharto, namun ketika kembali ke Indonesia diterima oleh Presiden berbeda yang baru dilantik pada masa reformasi: BJ. Habibie.

Di situlah Sigit memiliki memori manis, bahwa bulu tangkis, menjadi bukti bahwa Republik Indonesia masih ada. Karena prestasi di cabang ini, Indonesia Raya berkumandang pada ajang bergengsi internasional, Thomas Cup 1998, di saat situasi politik dalam negeri jadi sorotan internasional. Tak hanya itu, bulu tangkis pun jadi olahraga yang mempersatukan Indonesia.

Lahirkan legenda baru: Kevin Sanjaya

Sejak pensiun sebagai pemain, Sigit fokus menjadi pelatih khusus sektor ganda di PB Djarum Kudus hingga sekarang.

Dimulai tepat jam 6 pagi setiap hari, Sigit mengasah kedisiplinan talenta muda penerus atlet bulu tangkis Indonesia di masa depan, bibit-bibit potensial yang telah terseleksi melalui beasiswa PB Djarum Foundation.

Kevin Sanjaya, pebulutangkis milenial peraih emas Asian Games 2018 merupakan salah satu anak didiknya yang menonjol. Kevin pun mengagumi sosok Sigit. Tak heran jika teknik pukulan Kevin yang tidak terduga dan mengecoh lawan mirip dengan ciri khas Sigit.

“Benar-benar sedih kalau pembibitan talenta muda bulu tangkis ini harus berhenti. Speechless,” kata putera pasangan Sutoto dan Naniek Sriniati yang punya ciri khas mengunyah gula jawa saat bermain, sebagai sarana memfokuskan pikiran dan
konsentrasi. (LE-KD)