Aqua Mambal Komitmen Kembangkan Pelestarian Keanekaragaman Hayati

22 September 2019, 07:43


Bali News - Aqua Mambal Komitmen Kembangkan Pelestarian Keanekaragaman Hayati

Badung, LenteraEsai.com – PT Tirta Investama Pabrik Mambal (Pabrik AQUA Mambal) bersama dengan PPLH (Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup) Bali bersinergi melakukan program pelestarian keanekaragaman hayati (Kehati) yang dilaksanakan di Desa Belok Sidan, Petang, Badung, Bali.

Stakeholder Relations Manager AQUA Mambal I Nyoman Arsana mengatakan, AQUA Mambal secara berkelanjutan mendorong pengembangan pedesaan yang berbasis pada pelestarian lingkungan. “Perusahaan berkomitmen ganda untuk meraih sukses di bidang bisnis dan secara bersamaan juga berkontribusi aktif terhadap sosial lingungan dan masyarakat di sekitarnya,” kata Nyoman Arsana ketika ditemui di lingkungan ekowisata Jempanang D’Alas Banjar Jempanang Belok Sidan, baru-baru ini.

Nyoman Arsana mengatakan, kawasan ekowisata Jempanang D’Alas menjadi rujukan bagi wisatawan nusantara dan mancanegara untuk menikmati wisata desa yang sarat dengan pesan pelestarian lingkungan yang berdampingan dengan kearifan lokal di wilayah setempat.

Jempanang D’ALAs merupakan program Ayung Lestari. Ayung Lestari sendiri adalah implementasi inisiatif CSR dari Pabrik AQUA Mambal yang dalam pelaksanaannya bekerja sama dengan PPLH Bali semenjak tahun 2014.

“Aqua Mambal mengembangkan program Ayung Lestari dengan kegiatan konservasi sumber daya air, Water Access Sanitation Hygiene (WASH), pelestian Kehati, serta Pertanian Sehat Ramah Lingkungan,” ujar Arsana.

Tim Pelaksana Pelestarian Kehati PPLH Bali Ni Made Indra Wahyuni menambahkan, hingga kini kegiatan pelestarian Kehati di Desa Belok Sidan berjalan lancar. Di mana warga dan aparat desa turut berkomitmen menjaga alam lingkungannya. Hal ini terlihat dengan diterbitkan Peraturan Desa No 2 Tahun 2017 yang mengatur agar segenap warga Desa Belok Sidan serta desa tetangga untuk melestarikan tumbuhan dan hewan langka supaya tidak ditembak.

“Kami juga melakukan monitoring flora dan fauna agar tidak punah. Kalau fauna endemik di Belok Sidan ini antara lain burung pleci, gelatik, jalak kebo dan tekukur,” ujar Made Indra.

Dia meneruskan, sedangkan untuk jenis flora, maka pihaknya bersama masyarakat melakukan penanaman taru permana untuk kegiatan upakara keagamaan. Berbagai jenis flora yang telah dikembangkan ialah majegau, cendana, kembang riyasa, intaran dan beragam tanaman upakara lainnya.

“Pada flora yang endemik sudah diberikan semacam ‘name tag’. Atau kalau ada wisatawan yang ingin melakukan penanaman pohon, kami siapkan ada bibit dan lokasi. Jadi wisatawan bersangkutan dapat sewaktu-waktu melihat sejauh apa perkembangan pohon yang ditanam. Ini untuk menanamkan rasa kecintaan pada alam,” katanya.

Ekowisata Jempanang D’Alas

Wayan Terima, selaku pelopor berdirinya Jempanang D’ALAs menjelaskan ekowisata ini sudah berdiri sejak awal 2019. Pada mulanya merupakan ajang agrowisata, namun memasuki 2019 telah dikembangkan menjadi ekowisata berbasis kerakyatan.

Menurut Terima, pihaknya bersama masyarakat telah membentuk organisasi ekowisata Jempanang D’ALAs dengan pelatihan guiding, dan pemetaan paket eduwisata, juga pembangunan penangkaran burung endemik dan monitoring flora fauna. “Diharapkan wisatawan tidak sekedar melihat indahnya pemandangan, tetapi bisa belajar bagaimana masyarakat menghargai dan menjaga alam dengan kearifan lokal yang kuat,” kata Terima seraya berharap bahwa ekowisata Jempanang D’ALAs akan bisa meningkatkan ekonomi masyarakat, sekaligus menjaga lingkungan tetap lestari.

Terima mengatakan, semula kawasan agrowisata hanya terdiri atas anjungan swafoto yang terbuat dari bambu sederhana serta dipadukan dengan wisata petik buah jeruk. Setelah dikembangkan menjadi agrowisata, telah dilakukan penataan dengan pembangunan tempat selfie, dilengkapi dengan ajang istirahat terdiri atas dua gazebo dan coffee shop.

Selain itu, ada atraksi trekking bagi wisatawan yang ingin menikmati alam Belok Sidan dengan pilihan rute sejauh 1,5 km, atau pilihan lainnya 2 km dan 4 km. Saat trekking, wisatawan akan diajak berjalan kaki menyusuri lingkungan desa melewati kebun jeruk dan kopi, berlanjut meneruskan ke kawasan hutan yang berada di perbatasan Kabupaten Buleleng.

“Tujuan kami adalah mengangkat potensi wisata Badung Utara. Agar masyarakat menerima dampak pariwisata dan ke depan kami ingin memberdayakan warga. Di mana rumah warga dijadikan homestay. Dengan demikian semua mendapat dampak positif pariwisata, baik masyarakat maupun desa adat,” kata Terima. (LE-BD)