Penekun Spiritual Bali Berburu Batu Pirus Sampai Singapura

2 November 2019, 20:55


Bali News - Penekun Spiritual Bali Berburu Batu Pirus Sampai Singapura

Singapura, LenteraEsai.com- Pirus atau Turquoise sebagai salah satu batu permata yang memiliki banyak pengemar di seluruh dunia, sejauh ini cukup banyak dijumpai di Iran, Pakistan, Tibet, China dan Nevada, Amerika Serikat.

Pirus yang lebih dikenal dengan sebutan Turquoise, bukan karena terdapat di Turki, tetapi lebih karena banyak diperdagangkan oleh saudagar-saudagar permata dari Turki. Sebagai unsur bebatuan alam, tingkat kekerasan pirus berada pada kisaran 5-6 sekala Mohs saja, namun memiliki keindahan yang luar biasa.

Koresponden LenteraEsai.com IGW Jayanegara dari Singapura, Sabtu (2/11) melaporkan, masyarakat di negeri yang bertetangga dengan Malaysia dan Indonesia itu, juga banyak yang gemar dan mengagumi keberadaan batu pirus.

Selain diperdagangkan di sejumlah toko dan gerai-gerai di pasar, batu pirus juga banyak diperjualbelikan melalui jaringan online. Namun harga yang ditawarkan masih tergolong tinggi.

Berbekal informasi dari ‘browsing’ pada situs dunia maya, beberapa ‘pemuja’ batu pirus mulai mengarahkan perburuannya ke pusat kota Singapura, tepatnya di seputaran Bugis. Sebuah gerai yang terletak tidak jauh dari Mesjid Sultan di kawasan Kampong Glam, Singapura, diketahui cukup banyak menyimpan batu permata.

Haji Ma’un, pria berusia 71 tahun, mengaku telah membuka gerai dengan menekuni bisnis batu permata sejak lebih dari 40 tahun silam. Ia menyebutkan bahwa di tempatnya berjualan itu lumayan banyak mengkoleksi batu pirus yang berasal dari sejumlah negara, dengan berbagai ukuran.

Untuk pirus asal Persia, kata Haji Ma’un, telah dikumpulkannya sejak lebih dari 20 tahun lalu, dengan cara membeli langsung dari pedagang yang berjualan di negeri Iran.

Mengenai pegemar yang sering datang ke gerainya, Haji Ma’un menyebutkan sebagian besar adalah kolektor permata dari Indonesia. “Banyak orang Indonesia yang datang kemari untuk membeli permata, termasuk batu pirus,” ujarnya.

Saat ditanya mengenai manfaat batu pirus Persia, ia menyampaikan, selain sebagai aksesoris karena warna dan guratan emasnya yang indah, pirus merupakan batu kewibawaan dan selalu memberikan ketenteraman batin bagi pemiliknya.

Sebuah pirus biru muda bergurat emas yang terbungkus kantung kain kecil berwarna hijau, mendadak ia rogoh dari dalam saku bajunya. “Permata ini selalu saya bawa saat berpergian,” katanya sambil menunjukkan batu pirus sebesar biji kacang merah.

Menurut Haji Ma’un, harga batu pirus tergantung dari keindahan warna, jenis guratan atau ‘matrix’, dan tentunya ukuran dari pirus itu sendiri. Per gramnya dijual antara $2 sampai $10. Harga yang cukup terjangkau bagi penghobi permata, ujarnya.

Sementara itu, Jero Mangku Yoga, warga asal Tiyingan, Kabupaten Karangasem, Bali, mengaku sengaja datang ke sejumlah negara termasuk Singapura untuk memburu batu pirus dan sejenis permata bertuah lainnya.

Mangku Yoga yang dikenal sebagai seniman multitalenta, terutama untuk seni tabuh dan seni ukir, sejak beberapa tahun ini mulai aktif menekuni dunia spiritual, membuka rahasia di balik indah dan magisnya batu pirus Persia.

Ia mengungkapkan, pirus Persia antara lain sangat bermanfaat untuk mengobati orang yang digigit binatang berbisa, seperti tersengat lebah. Dengan cara, batu berpori halus tersebut ditempelkan begitu saja tepat di atas luka sengatan lebah maupun hewan penyengat lainnya.

Begitu ditempel, pirus akan ‘mengisap’ racun yang dilepas oleh lebah ke dalam tubuh, katanya dengan menambahkan, sebagian orang memang diketahui alergi terhadap gigitan lebah. Akibatnya, tubuh menjadi bengkak dan rasa sakit yang berkepanjangan.

Sehubungan dengan khasiatnya untuk penyembuhan beberapa jenis penyakit, Mangku Yoga kini harus berburu batu hingga ke Singapura guna menambah koleksi permatanya. “Saya sengaja pesan sebuah batu pirus Persia hingga ke sini,” kata Mangku Yoga sambil menunjuk gerai milik Haji Ma’un.

Senada dengan Mangku Yoga, pemburu batu yang lain, menyebutkan, pirus juga dikenal sebagai batu wajib bagi punggawa penunggang kuda pada zaman kerajaan Mesir kuno. Dengan memakai cincin pirus, para punggawa yakin tidak akan terjungkal pada saat memacu kuda perang dalam kecepatan tinggi.

Serupa seperti yang pernah dikisahkan oleh seorang sahabat, selama menjalankan tugasnya sebagai polisi di daerah Praya, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, AKP Nengah Mogig mengaku selalu memakai cicin berpermata pirus Persia berwarna biru muda kesayangannya.

Nengah Mogig mengatakan bahwa batu pirus bergurat emas tersebut ia dapatkan dari seorang teman yang waktu itu baru saja pulang dari melaksanakan ibadah haji di Mekah, Arab Saudi. Dikatakan, batu pirus dapat menghindarkan pemakainya dari mara bahaya, khususnya pada saat berkendara di jalan raya.

Jalur jalan raya Praya-Denpasar sejauh kurang lebih 100 kilometer, sudah terbiasa ia lalui baik siang maupun malam hari. Bersyukur, Nengah Mogig mengaku tidak mengalami hambatan apapun.

Mengenai perawatan batu pirus agar tetap bertuah, beberapa penggemar mengatakan sangan sederhana. Cukup dengan mencuci menggunakan air hangat kuku, ditambahkan sabun tangan atau lendir daun kembang sepatu secukupnya. Setelah dibilas dengan bersih, gunakan kain halus untuk mengeringkan.

Guna membuat lebih berenergi, berikan sedikit cahaya atau jemur pada sinar matahari di pagi hari. Ini juga untuk meningkatkan aura dan penajaman warna alaminya, kata Bang Ramy (47), kolektor permata yang juga pengemar batu pirus Persia.

Pada saat menyimpan, lanjut Ramy, pisahkan pirus dengan benda-benda keras lainnya, atau lebih baik lagi ditempatkan dalam kotak khusus untuk permata yang sudah ditambahkan bau wewangian. (LE-JN)