WNA yang Siksa Warga Lokal di Sky Garden Diganjar 4 Bulan Penjara

18 November 2019, 23:18


Bali News - WNA yang Siksa Warga Lokal di Sky Garden Diganjar 4 Bulan Penjara

Denpasar, LenteraEsai.com – Markus Karel Senen alias Max, warga negara asing (WNA) asal Belanda yang didakwa telah menyiksa penduduk lokal I Putu Gede Ambara Sadewa di lantai 2 diskotek Sky Garden Legian Kuta, Bali, dijatuhi hukuman 4 bulan penjara di Pengadilan Negeri Denpasar, Senin (18/11) siang.

Majelis hakim yang diketuai I Dewa Budi Watsara dalam amar putusannya menyatakan sependapat dengan jaksa, yang menyebutkan bahwa terdakwa Max terbukti bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 351 ayat (1) KUHP.

“Menyatakan terdakwa Markus Karek Senen alias Max terbukti bersalah melakukan tindak pidana penganiayaan. Oleh karena itu menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama 4 bulan dipotong selama yang bersangkutan berada dalam tahanan,” kata hakim Budi Watsara dalam amar putusannya.

Atas vonis tersebut, terdakwa Max yang didampingi pengacara Nyoman Ferry, langsung menyatakan menerima. Sementara Jaksa Penuntut Umum (JPU) Cakra Yudha Hadi Wibowo yang sebelumnya menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama 6 bulan, menyatakan pikir-pikir.

Di muka persidangan terungkap, kasus penganiayaan yang terjadi di lantai II ESC Sky Garden di Jalan Legian Kuta, Kabupaten Badung pada 8 Agustus 2019 sekiter pukul 21.00 Wita itu, berawal saat korban diminta oleh saksi Arya Nanda Widi Sadewa datang ke Sky Garden.

Korban yang adalah karyawan di Sky Garden diminta datang dan ditunggu oleh Titian Wilaras, karena korban diduga mengambil uang perusahaan. Sampai di Sky Garden sekitar pukul 21.00 Wita, korban Ambara Sadewa langsung naik ke lantai dua.

“Sampai di lantai dua, korban melihat ada beberapa orang yang dikenal, dan juga yang tidak dikenal,” kata jaksa yang juga menjabat sebagai Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasipidsus) Kejari Badung itu dalam surat dakwaannya.

Orang yang dikenal korban adalah Titian Wilaras, serta anak Titian Wilaras berinisial PW, Yuliane Rustanti, Suarno dan Bagus. Saat saksi ingin duduk di sebalah saksi Suarno, tidak diperbolehkan oleh empat pemuda lain yang tidak dikenalnya.

Setelah itu, dua pemuda yang tidak dikenal mengajak korban ke balkon dan menanyakan apakah benar korban mengambil uang perusahaan, yang dijawab korban tidak.

Korban juga sempat ditanya bekerja sama dengan siapa, yang dijawab korban, masalah bekerja sama dalam hal pekerjaan adalah dengan Pak Suarno.

“Setelah itu korban kembali diajak ke tempat semula, tapi saat itu Pak Suarno yang namanya disebut oleh korban, sudah tidak berada di tempat,” ungkap jaksa.

Korban lalu duduk dan berhadapan dengan Titian Wilaras. Sedangkan terdakwa Max berdiri di sebelah kiri korban. Saat itu Titian Wilaras memarahi korban yang disebut telah ‘memegang’ atau melecehkan anak gadisnya.

Oleh korban dijawab bahwa persoalan itu sudah selesai, karena korban sudah meminta maaf. Tapi saksi Titian Wilaras tetap marah dan dengan nada tinggi berkata, “Kalau anakmu dibegitukan, bagaimana rasanya ?.”

Nah saat itulah terdakwa Markus Karel Senen alias Max tiba-tiba memukul pipi kiri korban. Saksi Titian Wilaras kembali menanyakan hal yang sama dan jawaban korban pun sama, bahwa dia sudah minta maaf. Mendengar jawaban itu, terdakwa Max kembali memukul pipi kiri korban.

Atas perbuatan tersebut, majelis hakim akhirnya menjatuhkan hukuman selama empat bulan penjara potong selama terdakwa Max berada dalam status penahanan. (LE-PN)