‘Flashback’ Perjalanan Hidup Komisaris Jenderal Polisi Firli Bahuri

2 Desember 2019, 07:01


Bali News - ‘Flashback’ Perjalanan Hidup Komisaris Jenderal Polisi Firli Bahuri

Jakarta, LenteraEsai.com – Pascaterpilihnya Komjen Pol Firli Bahuri sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk masa jabatan 2019-2023, sosok jenderal polisi berbintang tiga ini ramai diperbincangkan.

Keberhasilan Komjen Firli dalam melewati semua tahapan seleksi tidak terlepas dari upaya serta doa yang selalu ia panjatkan kepada Allah SWT, yang kiranya memohon untuk diberikan yang terbaik baginya serta bangsa dan negara.

Komjen Firli Bahuri yang rencananya dilantik sebagai Ketua KPK pada 20 Desember 2019, merupakan salah satu figur penting dengan sederet prestasi luar biasa. Namun rasanya banyak yang belum tahu bagaimana dan seperti apa perjalanannya hidupnya sejak kecil yang penuh inspirasi dan patut untuk diketahui publik, khususnya generasi muda Indonesia.

Dalam kesempatan silaturahmi, Ketua Umum IMO-Indonesia Yakub F Ismail dengan Komjen Pol Firli Bahuri di Mabes Polri Jakarta pada Kamis, 28/11/2019, banyak terungkap sisi lain dari seorang tokoh yang kini masih menjabat Kabaharkam Polri itu.

Ditanya tentang bagaimana dan seperti apa hingga Komjen Firli bisa seperti sekarang ini, ia sempat terseyum sejenak, kemudian berkata Alhamdulilah barokah.

Komjen Firli selanjutnya menuturkan beberapa kisah perjalannya. Terlahir di sebuah kampung terpencil bernama Desa Lontar di Sumatera Selatan pada 8 November 1963, dari seorang ibunda yang bernama Tamah dan Ayahanda bernama Bahuri. Ia adalah anak bungsu dari enam bersaudara.

Sebagaimana kehidupan di desa, Firli kecil tumbuh dengan keterbatasan sarana publik, namun hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk dapat berhasil sekolah layaknya anak-anak pada umumnya.

Di usianya yang ke-5 tahun,sang ayah telah meninggalkan Firli dan keluarga untuk kembali kepada Sang Khaliq, dan hal tersebut menjadi masa-masa kelam bagi Firli beserta saudara-saudaranya yang lain.

Hidup dengan seorang ibunda dan lima saudara lainnya yang sudah tidak memiliki ayah (yatim -red) menjadikan Firli Bahuri mengenal apa itu kerja keras dengan sarat perjuangan. Namun semangat tak pernah luntur untuk menggapai cita-cita.

Meski baru duduk di bangku sekolah dasar, Firli Bahuri sudah harus bekerja ekstra untuk dapat membantu meringankan beban sang ibunda yang telah mengambil peran sebagai kepala keluarga untuk menafkahi enam putra putrinya.

Tekadnya yang sudah bulat untuk dapat besekolah tersebut, tidak menjadikan masalah mengenai jarak tempat tinggal Firli yang jauh dari sekolah.  Sama sekali tidak menyurutkan niatnya untuk terus belajar. Untuk dapat sampai ke sekolah, Firli Bahuri harus menempuhnya dengan berjalan kaki belasan kilometer.

Adapun pada saa Firli Bahuri hendak melanjutkan ke sekolah menengah pertama (SMP), hanya ada satu sekolah swasta terdekat yaitu SMP Bhakti di Kecamatan Pengandongan, dengan jarak yang sangat jauh dan sulit dalam ukuran anak seusianya.

Jarak sejauh 8 km atau 16 km pulang pergi,  harus ditempuh Firli dengan berjalan kaki, namun hal itu semua tidaklah menyurutkan niat dan semangatnya untuk bisa bersekolah.

Bersekolah tidak membuat Firli Bahuri lupa untuk tetap berjuang membantu sang ibunda.

Untuk dapat terus mengejar cita-citanya setelah tamat SMP, Firli Bahuri harus merantau jauh meninggalkan kampung halaman guna melanjutkan sekolah di SMAN 3 Palembang.

Sebagaimana dituturkan beberapa rekannya, bahwasanya tidak sulit untuk menemukan Firli di sekolah, karena dalam kesehariannya hanya ada dua tempat yang menjadi favorit pria yang kini berpangkat Komjen itu, yakni perpustakaan dan ruang kelas tempat belajar.  (LE-JK)